Lapar Itu Sakral


Lapar itu sakral. Bagaimana hal itu bisa dinalar?


Lapar adalah urusan perut yang secara runtut ingin segera dimasuki makanan. Sedangkan sakral, jelas menjadi urusan iman. Karena itu, lapar bisa menjadi hal yang sakral, bila memiliki keterkaitan dengan penghayatan iman. Apa pun agama dan kepercayaannya.


Ya, lapar semestinya tidak melulu mengarahkan orang pada ketersediaan makanan. Lebih daripada itu hendaknya membawa orang pada Sang Sumber Hidup. Bahwa manusia hidup bukan dari makanan saja hendaknya terus bergema dalam jiwa.


Itulah mengapa, habis berpuasa, perihal ketersediaan makanan, sebaiknya bukan menjadi prioritas utama. Hidup manusia sejatinya tergantung dari segala yang diucapkan TUHAN, menjadi nilai edukatif untuk menempatkan rasa lapar dalam ruang sakral.


Bukan makanan yang pertama-tama membuat manusia hidup. Nafas sebagai denyut hidup adalah anugerah pertama yang diberikan TUHAN kepada manusia. Setelah itu baru makanan. Urutan kesadaran ini semestinya tidak terbolak-balik.


Persis seperti yang dimengerti dari kata Sanskerta "upa" dan "wasa" sebagai akar kata "puasa." Upa berarti mendekat dan wasa menunjuk pada Tuhan Yang Mahakuasa. Jelaslah kini yang menjadi tujuan puasa sebagai usaha mendekatkan diri kepada TUHAN, sang sumber hidup. Dari sinilah kesakralan berpuasa benar-benar terkuak.


Pertanyaannya, mengapa untuk mendekat kepada Tuhan harus rela merasakan lapar dan haus dalam waktu bersamaan? Sekali lagi waktu bersamaan. Tidak bisa bergantian. Nyicil lapar dulu, hausnya kemudian. Atau haus dulu, laparnya ditunda. Bukan begitu hukum berpuasa.


Dengan merasa haus dan lapar bersamaan, orang dituntun untuk menghargai hidup sekaligus menghormati kematian. Keduanya berada dalam kuasa Tuhan. Hanya orang tolol menganggap berkuasa atas kematian dan kehidupan sesamanya. Mengingat tidak ada manusia yang bisa mengalahkan kematian.


Orang bisa hidup karena makan dan minum, sebaliknya orang juga bisa mati karena tidak makan dan tidak minum. Itulah yang membuat merasa haus dan lapar menjadi pintu membuka kesadaran, di mana kesakralan bertahta.


Namun ironisnya, ketika orang sedang menempatkan rasa lapar dan haus dalam ruang sakral justru televisi sibuk menyuguhi macam-macam hidangan yang memanjakan nafsu makan dan minum. Di sinilah kejahatan televisi menjadi tampak nyata bagaikan kejahatan Rangga menurut versi Cinta dalam AADC2.


Nah, masihkah ingin menempatkan rasa lapar dan haus dalam ruang sakral? Mungkin, dengan tidak menjadi hamba televisi selama bulan puasa bisa menjadi pilihan. Siapa tahu dengan cara seperti itu, rasa lapar dan haus itu akan berbicara banyak tentang kesakralannya. |seti