Komunikasi Naif


Akhir-akhir ini komunikasi naif makin tak terkendali dalam bereksistensi. Kemajuan media sosial yang menjadi trend bersosialita menjadi generatornya. Orang mengunggah status tanpa disertai konteks wacana yang jelas sudah cukup mengundang aneka macam komentar. Apalagi si pengunggah adalah figur publik dengan follower bertitik-titik.


Jangankan figur publik semacam selebrita hingga tokoh politik dan agama yang ngartis. Figur biasa saja, asalkan punya pengikut, akan gampang sekali menikmati jenis komunikasi naif ini. Unggah status atau segera berkomentar tanpa latar yang jelas adalah syarat menikmati komunikasi jenis ini.


Komunikasi naif adalah omongan spontan dengan mendasarkan pada kepercayaan dan pengandaian nonverbal yang biasa dalam ingkungan sosial. Komunikasi jenis ini cukup mengandaikan pihak-pihak yang sedang berkomunikasi memiliki pemahaman yang sama. Orang lain dianggap mengerti seperti yang dimaksudkan. Padahal dalam kenyataan belum tentu demikian.


Bisa dibayangkan nasib sosialita ke depan bila komunikasi naif menjadi budaya. Ketika suka hidup dalam pengandaian, lama-kelamaan akan mengunduh hal-hal yang problematis. Untuk itu, komunikasi naif tidak semestinya dibiarkan sendirian. Komunikasi reflektif mesti diajak sebagai teman seiring sejalan.


Komunikasi reflektif memang berbeda dengan komunikasi naif. Kalau komunikasi naif bercirikan sifat spontan dan dipenuhi pengandaian nonverbal, komunikasi reflektif memiliki ciri kejelasan dengan keberanian mengesampingkan konteks nonverbal.
Ada empat syarat yang mesti dipenuhi demi keberhasilan komunikasi reflektif. Jelas, benar, jujur, dan betul.


Jelas karena mengungkap maksud secara tepat, benar dalam mengatakan ungkapan hati, jujur yang berarti tidak berbohong, dan betul menurut ketentuan yang diandaikan bersama. Dengan memenuhi keempat syarat tersebut, komunikasi reflektif akan bisa diandalkan dalam menemani perjalanan si komunikasi naif.


Komunikasi reflektif selalu berani mempertanyakan pembicaraan spontan demi sebuah kejelasan. Komunikasi reflektif tidak betah kalau menjalani hidup di dunia pengandaian saja. Maka dari itu komunikasi reflektif tidak bosan-bosannya selalu mengajak komunikasi naif memastikan kebenaran pembicaraannya. Itulah mengapa bagi komunikasi reflektif, konteks nonverbal dikesampingkan, klaim-klaim implisit pun dikeluarkan sehingga menjadi eksplisit.


Peran bahasa, dalam komunikasi reflektif jelas menjadi signifikan. Mengingat bahasa selalu mengajak orang berkomunikasi secara intersubyektif. Orang tidak hanya bertumpu pada kesadaran hubungan subyek-obyek namun lebih kepada kesadaran antar subyek. Dari sinilah kerangka kerja komunikasi dialogis diketemukan sebagai paradigma teori komunikasi. Sebuah paradigma komunikasi yang bertujuan memeriksa pengandaian-pengandaian komunikasi naif.


Jelasnya, komunikasi reflektif memang tidak bertujuan untuk membangun sistem moralitas baru. Perhatiannya lebih pada upaya memecahkan persoalan hidup yang adil dan bukan soal hidup yang baik.


Hidup yang baik (etis), yang selalu bersifat partikular dibiarkan eksistensinya dengan penuh hormat. Yang etis biarlah tetap ngeksis, sembari terus mencari hidup yang adil. Adil bagi diri atau komunitas sendiri sekaligus bagi orang atau komunitas lain.


Dari sini, akan terlihat bahwa keberadaan perda-perda yang mengatur apa yang baik ke tengah alun-alun publik tidak lain adalah sebentuk kolonisasi. Tanda dari kemunduran peradaban. Semestinyalah kewenangan perda lebih mengurusi hidup yang adil (moral) ketimbang hidup yang baik. Urusan hidup yang baik, biarlah itu menjadi hak paten tiap komunitas yang partikular sifatnya.


Demi kemajuan peradaban, rasanya semakin mendesak saja bagi para politisi dan pemangku kewajiban paham tentang tujuan peraturan dan undang-undang. Adalah tanda keterbelakangan mental bangsa bila produk peraturan dan undang-undang mengabaikan hidup yang adil dan malah sibuk mengurusi hidup yang baik yang berada dalam wilayah partikularitasnya. Hidup yang baik tidak perlu diatur-atur, karena sudah ada dalam tiap komunitas penyangga dengan barbagai keunikannya.


Saatnya teori komunikasi Jurgën Habermas menjadi cara berkomunikasi politik. Teori yang melahirkan demokrasi deliberatif atau demokrasi permusyawaratan. Demokrasi yang mengedepankan legitimitas melalui komunikasi reflektif dan bukan intervensi. Demokrasi permusyawaratan jelas tidak memakai prinsip mayoritarianisme tetapi mengkedepankan keterwakilan semua elemen masyarakat. |seti