Kisah Kartu Ucapan

Hari ini puasa hari pertama di bulan suci ramadhan 1437 H. Di grup WA Sobat FSUB, kata ucapan "selamat menjalankan ibadah puasa" atau kata yang senada, lengkap dengan daya khayal dan tingkat kesalehan masing-masing dari sobat non muslim pun digelar. Pagelaran kata ucapan yang membuat nuansa ramadhan lebih segar, persobatan makin mekar, wajah-wajah pun makin berbinar. Itu memang benar. Maka jangan membaca tulisan ini dengan mata nanar.


Tengoklah kata apresiatif dari Kyai Marzuki.
"Terima kasih ucapan romadlon dari dulur2  Non Muslim semuanya."
Tidak ketinggalan, punggawa Percik yang berhijab, Haryani Saptaningtyas pun menuangkan isi hatinya.
"Amien matur nuwun sanget..."


Sebuah silaturahmi kata-kata yang belum bisa ditemukan selama pemerintahan orde baru. Sebuah era yang menempatkan kartu ucapan pada masa kejayaan. Sebuah zaman yang tak mungkin terlupakan oleh orang yang berburu kartu ucapan.


Salah satunya adalah Pdt. Soelarso Sopater, yang pada suatu pagi hari pertama bulan Ramadhan, sudah menunggu pedagang kartu ucapan Idul Fitri. Lebaran masih satu bulan, Pak Larso sudah mencari kartu ucapan. Padahal, menurut Pdt. Andar Ismail, sepagi itu, belum ada pedagang kartu ucapan yang datang. "Begitu besar kesungguhannya untuk memelihara persahabatan dengan teman-teman Muslim", Andar pun menuliskan.


Kartu ucapan, ternyata bukan sekedar kertas seukuran kartu pos yang berisi kata-kata selamat. Lebih dari itu, ketika ada banyak yang menunggu seperti dilakukan Pak Larso, kartu ucapan itu memiliki kisah tersendiri. Kisah tentang bagaimana keselamatan itu dirayakan bersama para sahabat dalam perbedaan berkeyakinan.


Keselamatan adalah milik bersama dan tidak bisa dipatenkan pada agama atau keyakinan tertentu saja. Sama halnya dengan kebenaran. Keduanya adalah anugerah Tuhan yang diberikan bagi keberlangsungan kemajuan peradaban. Karenanya keselamatan dan kebenaran bukan untuk mainan para pemuja dan tukang klaim semata. Keberadaan tukang dan pemuja klaim seperti itu hanyalah menandakan kemunduran akhlak dan peradaban. Soalnya sudah biasanya mereka suka meniadakan eksistensi sesama atau kelompok lainnya.


Kisah kartu ucapan, yang kini bertransformasi menjadi kisah linimasa di media sosial, kiranya terus meniti jembatan peradaban yang berkemajuan. Bukan malah sebaliknya memaksa orang mengalami keterbelakangan mental zaman. Menghidupi lagi aturan atau sejenis hukuman yang sudah ketinggalan zaman. Jauh dari kemanusiaan yang beradab. Ketika hukuman biadab pada masa lalu sekarang malah disanjungi melalui perda, tidak lain hanya secarik contoh keterbelakangan mental suatu pemerintahan.


Kisah kartu ucapan yang menemukan momentum pada bulan puasa hendak bercerita pula tentang makna puasa. Puasa berakar dari istilah Sanskerta 'upawasa'. Artinya mendekatkan diri kepada Tuhan. Untuk mendekat kepada Tuhan butuh waktu. Dari waktu menunggu saat buka hingga saat sahur. Waktu menunggu pun akhirnya tidak sia-sia. Seperti halnya Pdt. Soelarso Sopater yang kemudian bertemu pedagang kartu ucapan dan membelinya.


Akhirnya, selamat menjalani puasa dengan asa dan sikap yogacara. |seti