Keadilan a la Karen Lebacqz


Kita hidup di dunia yang tidak adil. Meskipun jarang kita sadari. Ibaratnya, ada orang-orang yang hidup laksana burung, mampu terbang tanpa halangan. Di sisi lain ada orang-orang yang hidup seperti ikan, yang berenang susah payah di lautan. Salah satu kesadaran mengenai ketidkaadilan itu ternyata penting untuk merefleksikan langkah nyata dalam rangka memperjuangkan keadilan. Kita bisa belajar dari Karen Lebacqz. 

Di dalam buku “Justice in an Unjust World: Foundations for a Christian Approach to Justice”, Karen Lebacqz memulai refleksinya dengan kenyataan tentang ketidakadilan. Ketidakadilan adalah satu-satunya tempat untuk memulai memerjuangkan keadilan, dengan penuh kejujuran. Permasalahan tentang keadilan oleh Karen Lebacqz dilihat dari perspektif Mang Juan, seorang pemimpin rakyat yang memandang bahwa orang-orang hidup di dua dunia yang berbeda. Mang Juan mengatakan: “Engkau hidup di udara, dunianya para burung, sedangkan kami hidup di lautan, dunianya para ikan.” Implikasi dari kedua dunia ini terletak pada burung-burung yang bergerak lebih cepat karena mereka terbang tanpa hambatan di angkasa. Namun ketika para ikan (orang-orang seperti Mang Juan) bergerak, mereka melaju dengan lebih lambat karena harus berenang di lautan hutang, beban sewa rumah dan kekuatan lainnya yang tidak adil. Para penindas dan yang tertindas hidup di dunia yang berbeda. Pergulatan yang tertindas melawan lautan yang tak adil itu sangatlah sulit dipahami oleh para penindas. Terlebih lagi, sedikit sekali orang berpendidikan yang bersedia memasuki dunianya orang-orang tertindas hanya untuk melihat realita permasalahan dan mengaspirasi cara pandang mereka.

Karen Lebacqz adalah seorang perempuan paruh baya, berasal dari kalangan menengah, berkulit putih. Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang yang hidup di dunia, di mana orang-orang berkulit putih telah menganiaya, melanggar, merendahkan dan menghancurkan orang-orang berwarna lainnya. Ia pun mengutip perkataan Nelson Mandela: “Segala hal yang baik di dalam hidup disajikan untuk orang-orang kulit putih dan kami orang-oran kulit hitam diharapkan puas memelihara tubuh kami dengan sisa-sisa makanan yang jatuh dari meja makan milik orang-orang berkulit putih. Inilah tolok ukur keadilan dan kelayakan milik orang kulit putih.” Dalam hal ini, Karen Lebacqz melihat dirinya sebagai wanita kulit putih yang hidup dalam dunia di mana orang-orang kulit putih menindas orang-orang kulit hitam. Ia adalah burung. 

Karen Lebacqz tidak hanya melihat dirinya sebagai penindas, ia juga melihat dirinya sebagai perempuan. Di Amerika, seorang perempuan tetap tertindas meski pun ia memiliki kulit putih, pandai bergaul dan terdidik dengan baik. Rata-rata gaji pegawai perempuan di Amerika Serikat pada tahun 1982 adalah dua pertiga lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pegawai laki-laki kulit putih dalam posisi yang sebanding. Dalam hal ini Karen Lebacqz dipekerjakan secara berlebihan dan dibayar rendah, demikikan juga dengan para perempuan lainnya di amerika Serikat. Ia juga disingkirkan, diremehkan, diperlakukan sebagai obyek, ditolak sebagai orang yang tidak berarti, diasumsikan tidak berharga kecuali dirinya merupakan lekatan dari seorang laki-laki. Penindasan terhadap perempuan di Amerika Serikat bukan menempati urutan teratas dari parade penindasan yang ada di dunia, tetapi penindasan itu nyata.

Gambaran burung dan ikan Mang Juan adalah cermin untuk melihat diri sendiri. Apakah diri sendiri merupakan seekor burung yang terbang bebas di udara? Atau kah diri sendiri merupakan seekor ikan yang bersusah payah berenang di lautan? Ini berkaitan juga dengan ekonomi dan politik yang berkaitan dengan kekayaan dan kekuasaan. Di Indonesia, status seseorang dilihat dari dua hal itu, yaitu kekayaan dan kekuasaannya. Seseorang akan sangat dipuja-puja jika ia kaya dan sekaligus juga berkuasa. Dengan kekayaannya ia bisa memilih kualitas pendidikan yang diinginkannya. Dengan kekuasaannya, ia bisa mendapatkan akses kesehatan yang lebih baik. Jika ada manusia Indonesia menemukan dirinya hidup dengan kekayaan dan kekuasaan, maka ia adalah burung dan bukan ikan.

Kebanyakan dari rakyat Indonesia adalah ikan. Mengapa? Karena rakyat Indonesia berenang di dalam beban hutangnya masing-masing. Banyak penduduk di negeri ini yang “pontang-panting” menyicil hutang pembelian rumah, belum mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang baik. Bahkan, sebagian kecil, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sangatlah susah. Dan yang diperlukan oleh para ikan ini adalah adanya upaya untuk mengapresiasi atau mengaspirasi cara hidup yang dimilikinya. Kekayaan dan kekuasaan para burung memungkinkan hal itu, dengan kata lain, para burung perlu terbang lebih rendah untuk mendengar suara ikan. Namun demikian, hal itu tidak terjadi di Indonesia, indoktrinasi yang keliru “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin” tetap saja dipertahankan. Sehingga kesan yang muncul adalah para burung memangsa ikan, padahal bukan itu yang kita inginkan bersama-sama.

Pada akhirnya, ini adalah mengenai mental. Bagaimana kita mengikis mental penindas yang ada di dalam diri kita? Dan bagaimana kita memperjuangkan keadilan? Dalam hal ini Yesus menjadi teladan bagi orang percaya. Yesus menempatkan diri dalam tradisi Keluaran, yang mana keadilan merupakan pembebasan bagi orang-orang yang tertindas. Fakta bahwa Yesus lahir di dalam kemiskinan, hidup dan bekerja dengan orang miskin, menyebarkan kabar baik untuk orang miskin, mengecam orang kaya – semua ini adalah bukti bahwa sentralitas pesan Injil menunjuk pada pembebasan bagi orang-orang miskin dan tertindas. Dengan demikian, keadilan yang pertama dan terutama merupakan pembebasan dari penindasan: “Pembebasan inilah maksud dari campur tangan YHWH di dalam sejarah.” Ketika ketidakadilan merajalela dan keadilan mengeropos, respon pertama dari Tuhan terhadap keadilan adalah adalah membebaskan yang tertindas.


_ Gendon [ Petra Agung Haryono ]