ORGANISASI: Jebakan dalam Menjalani Spiritualitas Kristus

Jebakan atau lereng licin yang bisa menjebak atau menjerumuskan majelis sehingga tidak menjalani spiritualitas Yesus Kristus adalah organisasi. Jebakan atau lereng licin ini sangat erat kaitannya dengan kekuasaan. Memang gereja itu organisasi atau institute tetapi gereja itu juga organisme. Yang sering terjadi penekanan berlebih pada organisasi. Salah satu tanda kecenderungan menekankan organisasi adalah menjunjung begitu tinggi bahkan hampir meng-ilahkan kitbah suci, ajaran (di GKJ adalah Pokok-pokok Ajaran GKJ) dan aturan (Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ).

Sidang majelis itu sejatinya (pada hakikatnya) adalah sidang untuk mencari kehendak Allah. Sebagai sidang yang mencari kehendak Allah, keputusan sidang mestinya didasarkan pada pertimbangan teologis. Pertimbangan-pertimbangan lain, sosiologis, politis, ekonomi, kemajuan teknologi, dsb memang layak diperhatikan tetapi dasar keputusan harus teologis. Sehingga keputusan itu benar-benar mencerminkan kehendak Kristus, bahwa menurut keyakinan majelis kehendak Kristus adalah sedemikian itu. Kalau Kristus sendiri menghadapi hal atau masalah itu Ia juga akan berkeputusan demikian. Akan tetapi yang sering terjadi adalah semua pihak cenderung mendasarkan keputusan sidang pada pertimbangan praktis, yaitu berdasarkan pada pertimbangan (yaitu sulit atau mudah, enak atau tidak enak, nyaman atau tidak nyaman) dan pragmatis (yaitu untung atau rugi, murah atau mahal, efisien atau tidak efisien). Memang membuat keputusan berdasarkan pertimbangan praktis dan pragmatis itu lebih mudah dan cepat, juga tidak perlu merenung kuat, berpikir mendalam dan mendasar.

Sebutan atau istilah Alkitabiah, kebenaran Firman Tuhan, apalagi sesuai ajaran, menurut tager-talak, itu adalah jebakan yang sebenarnya mengerikan. Bukankah ke jebakan demikian itu para orang Farisi, ahli taurat, imam bahkan imam agung dan pemimpin Yahudi lain terjatuh, dan terbelenggu?  Sehingga justru merasa berjasa sebab berdasar pada semua itu menyalibkan Yesus?

Berdasarkan keyakinan bahwa alkitbah itu adalah Sabda Allah, seringkali justru menjebak majelis gereja secara tidak sadar mengilahkan Alkitab, sehingga juga ada sebutan kebenaran Firman Tuhan. Apakah  makna sebutan atau istilah "kebenaran Firman Tuhan" itu? Ada istilah yang sedemikian populer di kalangan gereja dan orang Kristen, yaitu amanat agung, dan yang dimaksudkan dengan amanat agung itu adalah perintah untuk "mengkristenkan" orang yang belum Kristen, dengan ayat yang mendasarinya adalah Matius 28 : 19 – 20. Akan tetapi benarkah itu amanat agung? Agung mana amanat itu dengan amanat di Matius 22 : 37 – 40 yaitu perintah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama? Bahkan di Matius 22 : 40 itu disebutkan "seluruh hukum taurat dan kitbah para nabi tergantung pada kedua hukum itu. Bukankah itu berarti bahwa amanat agung itu adalah menjalani hidup penuh dengan cinta-kasih?

Membuat keputusan berdasarkan pada pertimbangan teologis bukan berarti mencomot ayat Alkitab untuk mendukung bahkan membenarkan keputusan itu, juga bukan mencomot ayat ajaran dan tager-talak, tetapi mempergumulkan secara mendasar dan mendalam semua pertimbangan baik ayat kitab suci, ajaran, tager-talak demikian juga pertimbangan-pertimbangan lain dengan hati yang terarah kepada Kristus. Yang pertama dan terutama dalam hal ini adalah hati yang bersih dan waspada.

Ki Atma