KUASA: Jebakan dalam Menjalani Spritualitas Kristus

Jebakan atau lereng lincin lain yang bisa mengakibatkan majelis gereja (pendeta, tua-tua, diaken) kurang bahkan tidak menjalani spiritualitas Yesus Kristus, adalah  kekuasaan

Di GKJ diajarkan bahwa majelis gereja itu wakil Kristus. Pendeta mencerminkan jabatan nabi, tua-tua mencerminkan jabatan raja dan diaken mencerminkan jabatan imam. Akan tetapi yang sering terjadi bukan fungsi itu yang diperjuangkan, melainkan kekuasaan sebagai wakil Kristus.

Salah satu gejala yang layak diperhatikan dalam kaitan dengan kekuasaan ini adalah kecenderungan memperhatikan bahkan mementingkan pakaian atau atribut sebagai simbol kekuasaan itu. Toga, stola dsb adalah pakaian yang menyimbolkan kekuasaan. Sayangnya, semua itu berubah menjadi tanda dan bukan simbol. Toga, stola sebagai simbol keadilan dan kebenaran, contohnya, tidak nampak atau terasa dalam kenyataan keseharian. Gereja dan orang Kristen memuji kalau keadilan dan kebenaran mencuat, sebaliknya ketidak-adilan dan ketidak-benaran terkalahkan, tetapi hampir tidak berani ikut bermain untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Gereja dan orang Kristen bangga ada orang Kristen semacam Ahok yang berani melawan kebobrokan moral dan etika dengan segala resiko dan konsekuensinya, tetapi hanya berhenti pada kagum. Gereja dan orang Kristen kurang bahkan tidak berani bergerak ikut dalam arus kecil melawan arus besar dan kuat, yang dijalani Ahok. Paling-paling gereja dan orang Kristen hanya ikut berteriak-teriak tetapi di bagian luar jauh dari lingkaran pertarungan yang dijalani Ahok.

Hilangnya daya simbolik itu juga terasa di dalam kotbah yang disampaikan dalam ibadah di gereja. Toga juga dapat dimaknai sebagai simbol akdemik. Akan tetapi, tidak jarang kotbah menjadi begitu praktis dan pragmatis, hanya mementingkan segi enak atau nyaman, serta mendapatkan keuntungan, terlebih lagi "waton lucu."   Kalau kotbah menjadi terlalu ilmiah atau bergaya akademik tentu kotbah itu mengakibatkan orang merasa ngantuk sebab sama sekali tidak menyentuh kehidupan konkret. Bersimbolkan toga itu selayaknya kotbah merupakan hasil pergumulan mendalam dan mendasar, bahkan merupakan reinterpretasi (penafsiran ulang secara baru) terhadap teks sehingga teks itu sungguh "berbicara" dalam konteks baru yang relevan. Yesus, antara lain nampak dalam "kotbah di bukit" melakukan reinterpretasi terhadap ayat suci, hukum atau aturan, tradisi, dsb. Memang akibatnya adalah tidak populer, tidak menarik dan  bahkan karena kotbah-Nya yang demikian itu Yesus disalibkan.


Ki Atma