Jebakan dalam Menjalani Spiritualitas Kristus.

Semestinya majelis gereja (pendeta, tua-tua dan diaken) menjalani spiritualitas Yesus Kristus. Akan tetapi yang normatif (seharusnya) ini belum tentu menjadi realitas (kenyataan) konkret. Ada jebakan/lereng licin yang harus diwaspadai, yang bisa mengakibatkan majelis gereja kurang atau bahkan tidak menjalani spiritualitas Yesus Kristus, salah satunya adalah kemuliaan. Kemuliaan itu berhimpit bahkan menyatu dengan harga diri.

Tradisi atau kebiasaan berkotbah di mimbar, bagi pendeta atau pengkohtab, atau duduk di dekat mimbar bagi para tua-tua dan diaken, sungguh merupakan godaan sangat besar yang dapat menjerumuskan majelis gereja (sekali lagi: pendeta, tua-tua, diaken) tidak waspada pada diri sendiri. Ia atau mereka puas dengan dirinya sebagai majelis.

Bukankah seseorang calon pendeta bahkan seluruh jemaat merasa puas ketika seseorang calon pendeta dinyatakan lulus ujian calon pendeta dan kemudian ditahbiskan? Meskipun selalu saja ada nasihat, petuah dalam sambutan bahwa penahbisan itu awal bukan akhir, tetapi yang sering terjadi adalah kepuasan dan kebanggaan, apalagi kalau kemudian pendeta itu disenangi oleh jemaat sebab selalu (dapat) menyenangkan jemaat. Pujian itu sungguh jebakan. Pendeta yang bangga karena mendapat pujian sesungguhnya telah tergelincir jatuh ke dalam jerat bahkan belenggu pujian itu. Sebaliknya, kalau tidak dipuji mungkin dicaci atau setidaknya digerutui (Jawa: digrenengi). Pendeta yang marah karena dicaci atau digerutui sesungguhnya juga sudah terjatuh ke dalam jerat bahkan belenggu caci atau gerutu itu. Namun kalau tidak ada reaksi apa pun terhadap pelayanan yang dilakukan tidak mustahil pendeta merasa kurang bergairah. Ini juga jebakan. Menjalani spiritualitas Yesus Kristus, hidup seperti Yesus Kristus itu menjalani hidup dengan motivasi Kerajaan Allah. Tidak bertambah karena dipuji, tidak berkurang karena dicaci, tidak kendor berkarya karena tidak ada reaksi (Jawa: ora mundhak jalaran dialembana, ora mendhak jalaran diundhamana, ora mundur ing pakarti luhur jalaran ora ana kang migatekna). 

Meskipun belum ada penelitian yang dilakukan secara sungguh-sungguh, namun kenyataan di hampir seluruh gereja para warga enggan menjadi majelis dan kalau pun akhirnya bersedia menjadi majelis mereka (atau ia) itu karena "terpaksa" sehingga merasa senang sekali kalau habis masa baktinya, agaknya juga berkaitan dengan kemuliaan. Sering digerutui atau bahkan dicaci tetapi hampir tidak pernah dipuji. Bebeda dengan apabila menjadi pejabat di suatu lembaga pemerintah atau swasta. Jerih payah yang dilakukan itu jelas mendapatkan imbalannya.


Ki Atma