"Penak Jamanku To?"


Pantat truk, pada era SBY pantas diapresiasi. Barangkali juga pantas dicatat sebagai salah satu prestasi kepemimpinan presiden keenam RI itu. Pantat truk bisa menjelma menjadi media berekspresi. "Hai kawan, zaman Pak Beye gitu loh", sekedar membayangkan Ruhut Sitompul berkata begitu. Tentu Ruhut perlu mengecualikan truk-truk yang mengangkut material ke Hambalang. Tempat dana berjuta-juta menjelma menjadi bangunan "mangkrak".


Tak bisa dipungkiri, bisa jadi para seniman pantat truk itu sangat terinspirasi dari ke-seniman-an Pak Beye yang gemar bernyanyi. Ya, menyanyikan lagu-lagu nostalgia, itu sudah tentu. Dan, seolah tak mau kalah, para seniman itu pun bernostalgia dengan masa lalu, ketika Presiden Soeharto berkuasa. "Penak Jamanku to?"


Kalau beta yang menjawab, tentu TIDAK. Penak atau tidak itu relatif. Pengalaman orang juga subyektif. Tak bisa semua orang digiring untuk menjawab "iya" menanggapi pesan dari pantat truk itu. Salah satunya ya beta, yang ingin katakan "tidak" pada pantat truk.


Bahkan, kalau hendak dimasukkan ke youtube, ingin sekali beta bergaya ala Angeline Sondakh. Politisi Demokrat yang sekarang berhijab, yang waktu SBY nyalon presiden rajin berkata: "Katakan TIDAK pada korupsi!" Padahal? Tahu sendiri, kan?


Mengapa beta mengatakan "tidak" untuk pantat truk? Karena sulit saja mencari enaknya pada zaman Pak Harto berkuasa. Boleh saja banyak orang berargumen dari harga BBM. 700 rupiah satu liter. Lah?! Zaman Pak Harto beta belum bisa beli kuda besi, cung? Apalah artinya BBM 700 perak satu liter, ketika hanya bisa kemecer lihat motor sliwar-sliwer?


Walaupun harga BBM pada zaman Jokowi-JK menembus 10 kali lipatnya, bagi beta tetap ada enaknya. Apalagi sudah tersedia pula pertamax. Alamak, kurang enak apa zaman sekarang. Pada era Jokowi-JK juga beta bisa membeli kuda besi salah satu generasi Z dari pabrikan berlogo garputala. Sekalipun kondisi second hand.


Lebih lagi, berkat RXZ itu pula beta bisa turut menyehatkan jalanan melalui aksi foging di jalan raya. Ini benar-benar beta syukurin, bisa beramal sholeh untuk banyak orang di jalan raya, menghindarkan mereka dari gigitan nyamuk berbahaya. Apalagi bila itu dilakukan secara berjamaah bersama para ZeTers. Beramal sholeh bersama, rukun di jalan raya, saling bantu dalam menempuh perjalanan bersama, saling njajakne sing padha duwe dhuwit. Wuih, benarlah kata-kata sang maha di grup WA.


"gilo, dunia tempat kita ditempatkan ini ciamik kaan? orang-orang pada rukun, saling membantu, saling membahagikan orang lain... kamdaniok.... taman eden itu ya kayak ini..."


Setelah direnung-renungkan, rasanya jadi tidak adil bila membandingkan hingga menghakimi zaman sekarang berdasarkan sudut pandang zaman dulu, begitu pula sebaliknya. Setiap masa menyediakan tantangan dan berkah yang menyertai.


Nah, dari pada mengatakan zaman dulu lebih enak, atau zaman sekarang lebih kepenak, mendingan mengkedepankan rasa syukur. Kuncinya, orang mau menerima tiga anugerah: iman, harapan dan cinta. Berkat tiga anugerah itu pula, beta pun ingin bernyanyi bersama sang kuda besi kesayangan. "Treng-teng-teng... nguooook..." Dan, bul-bul asap putih mengepul menebarkan bau harum ke seentero negri... |seti