CINTA YANG TAK TERBACA


"Humans see what they want to see."_Rick Riordan

Di ruangan itu masih semerbak wewangian. Harusnya wewangian menjadi hal yang menyenangkan. Sayangnya, wewangian yang ini berbeda. Ia berasal dari minyak yang tertuang pada sepasang kaki kotor. Kaki yang kemudian diusap dengan rambut. Rambut siapa? Rambut seorang perempuan. Sayangnya, perempuan ini sudah terlanjur terkenal sebagai pendosa.

Maka yang semerbak tak hanya wewangian, namun juga kegundahan. Simon, sang tuan rumah yang mengundang para tamu dalam sebuah perjamuan yg terhormat jelas gelisah. Para tamu lain pun tak kalah gundah. Kecuali tamu yang satu itu, seorang lelaki muda. Ia dengan teguh sekaligus teduh menatap tubuh si perempuan yang tersungkur. Sembari terus menikmati wewangian sebagai keindahan. 


Saru. Tabu. Ora ilok. Tidak pantas. Demikianlah kisah itu sering disebut sebagai sesuatu yang scandalous. Jadi batu sandungan. Tidak pantas seorang lelaki membiarkan dirinya bersentuhan dengan seorang perempuan. Apalagi perempuan berdosa. Apalagi sampai diusap dengan rambutnya. Harusnya lelaki itu tahu, pikir mereka.

Bagaimanakah perempuan itu harus dilihat? Siapakah dia di mata khalayak? Sebagai siapakah dia harus ditanggapi?
Di tengah kasak-kusuk atas peristiwa janggal itu, lelaki muda itu justru menantang Simon untuk melihat lagi. Melihat lebih jelas dan jernih. Ia dengan tegas bertanya kepada Simon, "Engkau lihat perempuan ini?"

Jelas, indera penglihatan Simon dan sekalian tamu telah melihat perempuan yang dikenal sebagai pendosa itu. Mereka melihat bagaimana perempuan itu dengan nekat masuk ke ruangan perjamuan, bahkan menjadi pusat perhatian karena tersungkur di dekat kaki seorang lelaki yang menjadi tamu terhormat. Perempuan itu bikin malu saja. Merusak pesta.

Namun lelaki itu menantang Simon untuk melihat lagi. Apanya yang dilihat? Lelaki itu melihat ekspresi cinta. Cinta yang besar, yang begitu jelas terbaca di mata lelaki itu. Namun tak terbaca oleh mata Simon dan para tamu lain. Simon tentu malu ketika lelaki itu justru menghujaminya dengan pernyataan yang mencengangkan:
Kau sebagai tuan rumah tidak memberiku air untuk membasuh kakiku, namun perempuan ini membasuh kakiku dengan air matanya, serta menyekanya dengan rambutnya.
Kau tidak mencium aku, namun perempuan ini tiada henti mencium kakiku.
Kau tidak meminyaki kepalaku, namun perempuan ini meminyaki kakiku dengan minyak wangi.

Lelaki itu membaca dengan jelas, bahwa tindakan perempuan itu adalah tindakan cinta sekaligus syukur. Mengapa menjadikannya batu sandungan?


Demikianlah ungkapan cinta memang sering tak terbaca. Demikianlah mata manusia lebih mudah memilih melihat sesuatu yang bukan ketulusan cinta. Manusia memang melihat apa yang ingin mereka lihat. Lalu ada banyak cinta yang tak terbaca.

Mari melihat, bahwa ada cinta yang diekspresikan oleh banyak nama dan peristiwa. Bukankah itu wewangian yang menyenangkan?