Bakul Amben



Suraji, lelaki 60 tahun penjual amben dari Desa Pengkol Nglipar Gunungkidul ini sudah tidak muda lagi. Seandainya dia menjadi anggota perkumpulan gereja, dia tentu sudah masuk dalam kelompok adiyuswa. Adiyuswa, warga sepuh yang mayoritas para purnakarya dan purnawira ini di gereja-gereja perkotaan justru sangat super semangat melakukan berbagai kegiatan, entah itu perkumpulan doa, pemahaman Kitab Suci, perkunjungan, latihan paduan suara, piknik bareng, sampai acara perkumpulan akbar para lansia se-Sinode.

Suraji warga desa biasa. Petani gurem. Itu julukan kepada warga desa yang mengandalkan hidup dari berolah tani pada lahan yang tak seberapa luas. Hasil pertanian dengan lahan tak seberapa luas jelas bakal tak mampu menopang pengeluaran rumah tangganya. Karena itu, kerja serabutan apapun sampai usia tua atau sampai ajal menjemput bakal dilakoni buat cagak urip.

Selepas selesai musim pertanian, berjualan amben dan aneka produk mebeler lainnya menjadi pekerjaan utama lelaki yang tidak muda lagi ini. Cara khas cara berjualan Suraji dan juga kawan-kawan dari desanya adalah dengan memikul barang dagangan berjalan kaki keliling dari desa ke desa tak berubah dari dulu sampai kini. Berjalan kaki puluhan kilometer dengan memikul tempat tidur, meja, kursi, rak perabotan dapur, dan barang lainnya itu menjadi menu sehari-hari saat berjualan.

Selepas subuh, Suraji berangkat dari rumahnya di Dusun Geger Desa Pengkol Nglipar. Dengan menumpang kendaraan barang yang menuju ke pasar di Kota Wonosari, ia membawa serta barang-barang dagangannya. Barang-barang dagangannya ia turunkan di Desa Karangtengah sebelum memasuki kota. Barang kemudian dititipkan pada salah satu warga desa tersebut.

Dari sini, sekitar pukul 0630 WIB, Suraji mulai berjalan menyusuri desa demi desa, dusun demi dusun. Ia menjajakan barang dagangannya dengan berjalan dan memikul amben atau tempat tidur, meja dan kursi, rak dapur, atau barang lainnya.

“Kalau dalam sehari belum laku, mungkin ada ratusan kilometer berjalan, tergantung cepat laku apa tidak,” katanya, saat ditemui sembari beristirahat di pinggir jalan perbatasan Desa Pulutan Wonosari dengan Desa Wiyoko Playen, Jumat, (27/5/2016).

Ia berkisah, ketika ada orang yang memberhentikannya untuk bertanya dan menawar, saat itu pula ia manfaatkan untuk istirahat sejenak. Ketika telah menempuh puluhan kilometer belum juga ada yang menawar maka ia akan mencari tempat teduh untuk beristirahat, kemudian memulai melanjutkan perjalanannya kembali. “Sudah sejak 15 tahun lalu saya jualan berkeliling seperti ini. Demi kebutuhan keluarga tentunya,” sambungnya.

Suraji menuturkan, barang dagangan itu diperoleh dari pembuat aneka mebelair di dusunnya. Ada tempat tidur, meja dan kursi, lemari, rak barang-barang dapur, dan sebagainya. Ia mengaku, dari setiap satu buah barang dagangan yang mampu dijual, ia mendapat keuntungan antara Rp 75.000 hingga 100.000. “Itu kotor, buat operasional makan dan lainnya jatuhnya jadi Rp 50 ribuan,” jelas Suraji.

Dari rumah, Suraji tak hanya membawa satu buah barang dagangan saja. Ada 2 atau 3 jenis barang. Apabila sedang mujur, artinya barang yang ia bawa sudah laku dan waktu juga belum begitu siang, maka ia akan kembali ke Karangtengah untuk mengambil barang dagangan yang dititipkan, lalu berkeliling lagi. Terkadang, apabila hingga petang hari dagangan belum terjual juga, maka ia akan titipkan di rumah warga di wilayah yang terakhir ia singgahi. Lalu kembali berjalan pulang, atau mencari tebengan. “Keesokan harinya diambil lagi, lalu dipanggul dijual keliling lagi. Begitu seterusnya,” imbuh Suraji.

Suraji mengaku, ia tak memiliki keraguan dalam menjajakan dagangan menuju suatu tempat. Meski saat ini telah banyak pengrajin mebelair di wilayah dusun-dusun yang ia singgahi, ia tetap yakin, dan ia akan selalu menjajakan barang dagangannya dengan berkeliling. Suraji memiliki keyakinan kuat, “berusaha sekerasnya saja, Gusti Pangeran yang akan memberikan hasilnya.”

Bertemu Suraji lelaki sepuh kuat perkasa penjual amben dengan cara dipikul dan berjalan menyusuri desa ini pikiran menjadi menerawang ke belakang. Juga menjadi teringat dengan kisah penyembuhan orang lumpuh yang pernah diceritakan guru Sekolah Minggu dulu kala, “Bangunlah dan berjalanlah, dosamu sudah diampuni.” Menjadi terngiang-ngiang kembali keyakinan Pak Suraji, “Berusaha sekerasnya saja, Gusti Pangeran yang akan memberikan hasilnya.” Ah, betapa diriku yang masih muda ini masih sering penuh keluh kesah, bermental pengecut, berperilaku mletho dengan lebih suka tidur-tiduran di amben asyik ngusek-usek HP. Kemudian mengomel mengumpat manakala kesal dan kecewa. Masih merengek minta dibeliin rumah, minta ganti montor, minta ganti mobil, padahal fisik badan masih seger waras. Masih sering tak segera paham dan mengerti, dahulu bapak dan simbok berpeluh keringat nandur pari, kacang kedelai, bahkan adol sapi atau wedhus agar diri ini tuntas bersekolah, bisa hidup penuh tanggung jawab dan mandiri.

[JJW]