Andar Ismail


Beliau adalah penulis terkenal seri selamat. Tidak tahu mengapa seri selamat yang dipilih, dan bukan seri syallom. Atau memang belum? Yang jelas seri selamat belum tamat, maka ucapan selamat pantas dialamatkan untuk para pembaca tulisan Pak Andar yang setia. Salah satunya adalah istriku tercinta. Tanya kenapa? Pak Andar yang adalah pengajar di STT Jakarta adalah dosen favoritnya.


Mata kuliah didaktik yang diampu begitu mengesan di hati istri. Tiap kali mempersiapkan khotbah, wajah Pak Andarlah yang terbayang, kata-kata Pak Andar pula yang selalu terngiang. "Sebagai murid kelas didaktik, jangan pernah lupa berdisiplin diri menuliskan khotbah yang berbunyi."


Sebagai suami dengan wajah standar saya pun pantas cemburu. "Apakah wajahku kurang inspiratif untuk sebuah naskah khotbah?" gumamku. Ternyata sebagai mantan tim khotbah jangkep, belum cukup mampu meyakinkan istriku. Hadeuh, beratnya lakon menjadi suami.


Pak Andar, kata istri, adalah sosok dosen yang hemat bicara, namun rajin menuang kata ke dalam kertas kerja. Kata-kata yang efektif, itu sudah tentu. Maka jangan tanya bila bertemu dengan mahasiswa bimbingan skripsi yang boros kata dan rajin bikin kalimat majemuk bertingkat. Alamat akan mendapatkan garis tebal dari spidol warna merah andalannya.


Walaupun menolak kalimat majemuk bertingkat, dosen yang bernama asli Siem Hong An ini tidak pernah melarang mahasiswanya membangun atau menghuni rumah bertingkat. Rumah bertingkat untuk kota sepadat Jakarta pasti bisa dimaklumi. Berbeda halnya dengan kalimat bertingkat dalam naskah akademik yang bisa bikin pening pala barbie. Namun kalau nasib mujur bisa sebaliknya. Dianggap sebagai orang yang cerdas karena bisa membuat bingung para pembaca.


Ilmu didaktik, masih kata istri, adalah ilmu yang mengabdi untuk mempermudah hal yang semula sulit dimengerti. Pemahaman ini dengan sendirinya menuntut kerja keras bagi sang didaktikus. Orang yang mampu mempermudah hal yang semula sulit, sejatinya hanya dimiliki oleh orang yang rajin belajar berpikir mendalam. Orang jenis ini sudah pasti tidak anti pada yang bernama pustaka. Entah berhaluan kanan atau kiri. "Kanan-kiri oke", sindir Warkop. Humor cerdas sang komedian yang mengolok pemerintah otoriter. Anehnya, hari seterang gini, pemberangusan buku masih berlaku?


Kembali ke soal ilmu didaktik. Sebaiknya, jangan segera membayangkan bahwa orang yang pandai berkata-kata di atas mimbar hingga berbusa-busa otomatis adalah didaktikus ulung. Kalau banyak kata terucap namun tanpa isi dan penalaran karena hanya sekedar ngécap, apa hendak dikata? Bagaimana pula hendak disebut, ketika di atas mimbar malah menjelma jadi badut?


Badut adalah sosok pengundang tawa. Anehnya, banyak umat ingin para pendeta dan pastur menjadi badut. Khotbahnya harus menghibur dan mengundang tawa. Dari hahaha hingga hihihihi. Sokur-sokur ada sesi yoga tertawa. Hahaha dan hihihi, sambil goyang-goyang kaki. Memang ada-ada saja, ya, menulis kok sambil tertawa.


"Tertawa itu bikin sehat", seseorang pernah berkata. "Tertawalah sebelum ditertawakan orang", lanjutnya. "Tertawa lagi setelah ditertawakan orang juga tidak dilarang", kesimpulan dia. Belum juga ingin ketawa? Lihatlah, Pak Andar Ismail pun tertawa, bersama karyawan BPK Gunung Mulia. (Fotonya diambil dari blognya Bayu Probo). |seti