'Ah' Wanita

Aksara Jawa yang terakhir adalah 'nga.' Aksara ini ternyata menyimpan makna berbagai macam. Salah satunya bisa ditafsirkan dari perspektif maskulin.


Itulah yang dijelaskan Pak Ustadz Badruni dalam acara tausiyah pernikahan putri Pak Marno. "Ada lima 'nga' yang menjadi kewajiban laki-laki kepada istrinya", kata Pak Ustadz dengan semangat. Kelima 'nga' itu adalah:
- ngayani
- ngayomi
- ngayemi
- ngancani, dan
- nganaki.


Bagaimana dengan kewajiban istri? Penjelasan Pak Ustadz yang sudah berusia 71 tahun ini ternyata tidak bias gender. Bila suami punya lima kewajiban, itu sama dengan kewajiban istri. Ada lima juga.


Bila kewajiban suami diambil dari aksara terakhir dalam hanacaraka, maka kewajiban istri justru diambil dari makna huruf Jawa yang pertama. Ya, huruf 'ha', namun dibalik sehingga menjadi lima 'ah'. Ingat ya, 'ah'... dan bukan 'uh'... Karena tidak pakai pasangan suku.


Lima 'ah' yang menjadi kewajiban istri itu adalah:
- olah-olah
- asah-asah
- umbah-umbah
- mlumah, dan
- momong bocah.


Bila diperhatikan, kelima 'ah' di atas hendak menegas keahlian khusus wanita dalam hal macak, masak, dan manak. Bahkan, empat dari kelima 'ah' sebagai kewajiban istri tersebut dekat dengan tempat-tempat suci. Olah-olah itu di dapur, asah-asah dan umbah-umbah tentu di sumur. Nah, kalau mlumah, di manakah? Di tempat tidur atau kasur adalah tempat terbaik yang disarankan.


Hal tersebut sesuai dengan filosofi Jawa, di mana tempat-tempat seperti dapur, sumur dan kasur memang merupakan wilayah yang dikuasai wanita. Apa jadinya tempat-tempat suci tersebut tanpa sentuhan magis wanita. Kumuh, jorok, dan berantakan kayak kapal pecah tentunya.


Ah, wanita ... tidak mungkinlah kalian dilupa, demi terjaganya tempat-tempat suci. |seti


[ilustrasi: http://www.timkicau.com/2015/08/peranan-wanita-dalam-dapursumur-dan.html?m=1]