TETANGGA

Tetangga itu meskipun tidak ada hubungan darah dan daging, tetapi merupakan saudara. Sedangkan saudara sedarah-daging yang tinggal di tempat lain itu telah menjadi tetangga. Demikian, salah satu ajaran leluhur Jawa. Buktinya, kalau sedang sakit, misalnya, yang segera menolong bukan saudara sedarah-daging yang tinggal di tempat lain, tetapi tetangga yang tinggal di kanan atau kiri rumah. Oleh sebab itu hidup rukun-ramah dengan tetangga adalah kewajiban atau panggilan hidup.

 

Tetangga itu memang ada yang baik tetapi juga ada yang tidak baik. Salah satu tabiat tetangga yang tidak baik adalah bergosip. Di masa lampau sangat terkenal ujaran bahwa "sinambi petan nggrenengi tangga" (sambil mencari kutu menggosipkan tetangga). Yang biasa mencari kutu (Jawa: petan) itu wanita. Meskipun tidak berarti hanya wanita yang cendeerung mengomongkan orang lain, menyebarkan berita benar atau baik maupun yang tidak benar atau baik. Pria pun juga mempunyai tabiat yang tidak baik demikian itu. Ketika melakukan ronda, misalnya, para pria yang sedang meronda itu juga mengomongkan apa saja, termasuk mengomongkan tetangga, dan menyebarkan berita apa pun. Karena kebiasaan demikian itu maka ada pepatah "sadawa-dawane lurung, isih dawa gurung" (sebuah gang itu masih kalah panjang dibandingkan kerongkongan). Artinya dari mulut ke mulut berita bisa menyebar sejauh-jauhnya melebihi panjanganya sebuah gang. Tabiat tidak baik itu yang dituliskan di bagian belakang bak sebuah truk: "musuh terbesar adalah cocote tonggo."

 

Dalam bahasa Jawa kata "cocot" itu secara harfiah berarti mulut. Sebenarnya "cocot" itu kata kasar. .Kata yang halus adalah "tutuk" yang lebih kasar adalah "cangkem" dan yang paling kasar adalah "cocot"  atau "congor" yang biasanya dipakai untuk menunjuk mulut hewan. Meskipun artinya adalah mulut, tetapi kata itu bermakna lebih dari sekedar mulut. Penggunaan kata itu menunjuk pada omongan atau  ucapan yang keluar dari mulut. Omongan atau ucapan yang dimaksud adalah omongan atau ucapan yang sifatnya negatif. Sesuai dengan sifat kasar kata "cocot" itu.

 

Omongan tetangga bisa menjadi musuh terbesar. Kalau seseorang memperhatikan apa pun omongan tetangga, maka ia akan mengalami kebingungan sendiri (Jawa: judheg karepe dhewe). Tetangga yang satu bisa ngomong yang berbeda dengan tetangga yang satunya lagi.  Kalau orang tidak memiliki pendirian tegas ia mudah diombang-ambingkan oleh omongan tetangga, sehingga ia justru menderita. Menurutkan omongan tetangga menjadi salah, tidak menurutkan tetangga juga salah. Hanya dengan memiliki pendirian tegas maka ia dapat mempertanggung-jawabkan sikap dan tindakan atau ucapan pilihannya sendiri.

 

 

Ki Atma