Tantra Ardhanariswara Acintyabhakti


Itu adalah nama putera kami. Lahir pada 23 September 2015. Tepatnya jam 00.12 malam, melalui operasi caesar.


Tindakan operasi harus dilakukan setelah istri berjuang lebih dari 18 jam mengusahakan kelahiran normal. Sekalipun sudah sampai bukakan 10, ternyata Tantra menginginkan lahir melalui “jendela.”


Bobot 3,6 kg dan terikat tali pusar membuat operasi caesar pun menemukan kesahihannya. Ketika keluar dari ruang operasi, tangis Tantra pun membelah sepinya malam RSB Bella, Bekasi. Pakdhe-nya pun bilang,”Wah, ini mah tangisan genre 2 tak… treng-treeeng... nguuuuok."


Komentar Pakdhe-nya ini dalam perkembangan menginspirasi kedatangan sang kuda besi generasi Z dari pabrikan Yamaha di Pastori GKJ Ngentakrejo. Dialah Sang RX-Z keluaran 1989. Berwarna merah putih, warna kebangsaan, sehingga kuberi nama “sang saka” dengan nomer dada 15.


Rencananya, sang saka akan turut Jambore Daerah RXZ-RZR di Tawangmangu, 5 Mei 2016 bersama para Ze-Ters Ngentakrejo. Idhep-idhep kebaktian padang memeringati kenaikan Nabi Isa ke sorga. Tentu gelaran kebaktian padang bersama para Ze-Ters akan memiliki kesan tersendiri. Mengingat persembahan harum dalam rupa asap mengepul bersama raungan "pujian" semua jemaah RXZ&RZR lintas iman. Baik yang bersuara standar hingga racing kolong.


Sayangnya, kini sang saka harus melangsungkan perkawinan beda "agama" terlebih dahulu. Velg Suzuki Fu depan belakang sudah dipinang dengan mas kawin seperangkat alat pembayaran yang sah. Pinangan ini dilakukan demi pengereman yang pakem. Adalah Bro Totok dan Bro Kelik yang menurunkan surahnya: “Keselamatan kala berkendara hanya kita titipkan pada piringan cakram yang tercengkeram dengan baik, Pak Bro…”


Sebagai pengiring mempelai adalah para Zeters yang punya cinta mendalam kepada generasi Z berkecepatan 6 speed ini. Bro Totok dan Sang Pekucrut dipercaya menghantar ke penghulu, Bengkel Modifikasi Ganonk, supaya perkawinan beda "agama" tersebut dicatat di catatan si boy. Saksinya adalah Sang Ramak yang menguasai ilmu tata rias engine. Dengan begitu diharapkan, sang saka nanti pun tampak nggantheng dan nggenthileng.

***


Dua tahun kami menunggu anugerah Tuhan, kelahiran seorang putera, yang pada 29 September 2015 kami beri nama Tantra Ardhanariswara Acintyabhakti. Nama yang punya cerita. Nama yang mengungkap kisah dan sejarah kedua orang tuanya.


Istriku bernama Wisnu Tri Handayani. Ada kisah unik ketika dia bertemu pendeta dari India. Dia heran ada orang Kristen dari Jawa bernama Wisnu. Sosok dewa yang begitu dihormati di India. ”Kok perempuan namanya Wisnu? Sebenarnya Dewa Wisnu punya sakti yang bernama Dewi Laksmi…”, demikian ujarnya. Menariknya, menurut konsep Nawa Dewata dalam agama Hindu Dharma di Bali, Dewa Wisnu menempati arah utara berdasarkan arah mata angin. Dan, di Jakarta Utara juga istriku berdomisili, menjadi pendeta di GKJ Tanjung Priok.


Menurut mertua, anak nomer tiga diberi nama Wisnu karena meyakini dewa Wisnu adalah pemelihara. Dengan kelahirannya di tengah keluarga, yang diharapkan adalah berkat pemeliharaan dari Tuhan. Anak nomer tiga ini diyakini memberi kekuatan maka nama selanjutnya adalah Tri Handayani. Hal ini sekaligus menggambarkan tiga kekuatan Dewa Wisnu yang disimbolkan tiga senjata yang dimiliki: Cakra Sudharsana, Gada Komodaki, dan Bunga Wijaya Kusuma. 


Dari sinilah, aku sebagai seorang bapak bergumul ketika akan memberi nama anak yang baru lahir. “Ibunya mempunyai nama dewa, salah satu Trimurti, maka anakku pun harus punya nama dewa”, pikirku.


Pilihan jatuh pada nama Shiva, yang mempunyai nama lain Ardhanariswara. Dialah wujud Shiva atau Mahadeva dalam wajah kesatuan mistik yang sempurna dengan sakti-nya Devi Parvati. Dia pula yang menampakkan diri kepada Arjuna ketika bertapa menjadi Begawan Cipta Wening di Wukir Indrakila.


Sebagai Ardhanariswara, Mahadeva menganugerahkan senjata sakti Pasupatastra (Pasopati), simbol kemenangan perang besar Bharatayudha. Mengingat, Pasupatastra adalah senjata yang bisa dikuasai oleh pribadi yang mempunyai ketenang-seimbangan, menyadari batasan kemampuan dirinya.


Pilihan pada nama Ardhanariswara sekaligus sebagai ingatan historis, bahwa bapaknya menjadi pendeta ditahbiskan oleh GKJ Cipta Wening, Klasis Boyolali. Kala penahbisannya, 22 April 2005 berkotbah tentang anugerah senjata Pasopati yang diterima Arjuna, salah satu pandhawa. Tahun penahbisan ini diingat dengan surya sengkala: Pandhawa Hanyipta Weninging Panembah. Surya sengkala itu pula yang menjadi judul khotbahnya kala itu.


Sebenarnya, sejak Ibu Tantra hamil, nama yang pertama-tama disiapkan adalah Acintyabhakti. Sebuah istilah Sanskerta yang mecandra kehidupan kedua orang tuanya sebagai pendeta. Acintya berarti tidak terjangkau pikiran. Semacam cinta rohani. Demikian P.J. Zoetmulder, SJ memberi keterangan dalam Kamus Jawa-Kuna. Dan, bhakti berarti kebaktian, kepercayaan atau pernyataan hormat.


Menjadi pendeta kurang lebihnya adalah kehidupan yang dipenuhi acintyabhakti, kebaktian dan cinta rohani. Itulah sebabnya, acintyabhakti menjadi nama anak kami.


Ketika berdasarkan USG diberitahu kalau jabang bayi di kandungan istri berjenis kelamin laki-laki, maka kami pun perlu mencari nama panggilan yang terdengar macho. Maka, tantra menjadi pilihan. Apalagi, menurut Rm. Zoetmulder, tantra berarti elemen dasar atau pondasi yang kuat.


Tantra konon berasal dari kata 'tan' yang berarti perluasan dan 'tra' yang artinya pembebasan atau menyeberangkan. Dengan demikian Tantra merupakan latihan rohani yang mengangkat manusia ke dalam suatu proses yang memperluas pikirannya hingga mencapai pencerahan.


Tantra menghantar manusia dari suatu keadaan tidak sempurna menjadi sempurna, dari keadaan kasar menjadi halus, dari kemelekatan menjadi terbebaskan. Sebuah paham yang sangat dekat dengan Latihan Rohani St. Ignasius Loyola yang pernah kami ikuti, dengan guru berbeda. Rm. Warna Binarja, SJ dan Sr. Laurensia PI menjadi pembimbingku, sedangkan istri dibimbing Pdt. Simon Rachmadi.


Tantra Ardhanariswara Acintyabhakti adalah wujud dan gerak rahmat Allah. Elemen dasar dalam latihan rohani yang mencerahkan. Menurut narasi besar Mahabharata, kurang lebihnya seperti Arjuna yang mendapatkan anugerah penampakan Shiva dalam ujud kesempurnaan sebagai Ardhanariswara. Bila merujuk Bhagavadgita, hal itu seperti pengalaman Arjuna kala mendapat penglihatan wujud asli Dewa Wisnu salah satu Trimurti, sebelum bharatayuda dimulai.


Penerangan rohani atau pencerahan demikian hanya mungkin dicapai dengan sikap dan laku acintyabhakti. Persis seperti Arjuna yang memerlukan jalan kesucian (minta raga) di lereng Wukir Indrakila. Hal yang sama juga ditunjukkan dengan sikap hormat dan bhakti kala menerima wejangan Bhagavadgita (kidung kemenangan suci) dari Sri Khrisna sehingga batin pun menjadi terang-benderang.

 

Menurut iman kristiani, sikap dan laku acintyabhakti begitu nyata dimaklumkan sendiri oleh Sang Sabda Allah dalam kisah pembaptisan di sungai Yordan. Sikap dan laku acintyabhakti yang membuat sorga menggemakan suara suci: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Roh Kudus dalam rupa burung merpati pun turun, memberkati kebaktian suci tersebut.


Aku tuliskan ini, semoga anak kami kelak bisa membaca makna dari nama pemberian orang tuanya. “Nama akan selalu mengundang segala berkah dari nama tersebut”, demikian kata-kata ajaran dalam tradisi Buddhisme Nichiren yang sangat menenteramkan hati. |seti


《foto.dokpri.seti》