tanpa judul

Perkebunan kopi itu kini menjadi arang. Api telah menghancurkan semuanya. Panen yang melimpah ruah hanya tersisa abu menumpuk di gudang. Inilah bagian yang paling mengharukan dari film Out of Africa. Harapan dan mimpi yang dibangun bertahun-tahun oleh Dinesen, perempuan pemilik perkebunan kopi dalam film itu, pupus sudah dalam satu malam. Itulah sisa kenangan Dinesen di Afrika sebelum ia kembali ke Denmark, negara asalnya. Ia pun menuliskan dalam buku hariannya bahwa ia pernah memiliki perkebunan kopi di Afrika. Sebuah kenangan yang tak pernah dilupakan.

“Tuhan telah datang!” Demikianlah seorang pembantu Dinesen yang merupakan penduduk asli Afrika memberitahukan bahwa kebakaran yang hebat telah terjadi di perkebunan. Kedatangan api diungkapkan sebagai kedatangan Tuhan. Ya, memang api yang membakar perkebunan begitu dahsyat! Sama seperti kedahsyatan Tuhan. Dinesen pun bergumam dalam hati, “Ini adalah karya Tuhan...”, sembari menatap perkebunan kopi yang hangus dilalap api.

Api itu Tuhan. Seperti halnya saat Pentakosta, api itu Roh Kudus. Api itu mengubah segala sesuatu. Mengubah arah kehidupan. Api itu meninggalkan pesan yang dalam. Bukan sekedar membakar, tetapi juga berpesan. Bukan hanya menyisakan abu, tetapi memandu perjalanan. Sama halnya tiang api yang dengan setia memandu arah bangsa Israel melangkah. Api itu bagai suluh perjalanan. Para murid tidak sekedar dibakar, tapi dibukakan jalan.

Sebuah ungkapan yang jujur dari penduduk asli tadi bahwa Tuhan telah datang! Memang Tuhan telah datang melalui api. Memandu langkah bagai suluh, membuka jalan ke arah yang lebih baik. Api telah memandu Dinesen untuk pulang di tengah ketersesatan. Api itu cinta. Api itu Tuhan.


(Tulisan ini dipersembahkan untuk Pdt. Paulus Yakto Karsono. Api itu bukan hanya membakar tetapi juga memandu langkah ke depan, karena api itu Tuhan!)

(dpp)