SUBALI SUGRIWA


Subali dan Sugriwa itu kakak-adik, para putra Resi Gotama. Keduanya mirip, sehingga sulit dibedakan. Keduanya dimintai tolong oleh para dewa untuk membasmi musuh para dewa, yang mengancam kehidupan.

Ya, pada waktu itu para dewa terancam oleh ulah Mahesa Sura, raja di gua Kiskenda. Mahesa Sura, manusia berkepala kerbau, itu mempunyai bala tentara yang juga saudara-saudaranya, yaitu Lembu Sora yang berujud manusia berkepala lembu sebagai patih dan juga Jata Sura. Mereka itu sakti mandraguna, dan sulit mati. Setiap kali salah satu mati, lalu dilompati oleh yang lain, maka yang mati itu akan hidup kembali. Kekompakan mereka untuk saling menghidupkan itu yang menjadi sumber kekuatan sehingga mereka sulit mati.

 

Mahesa Sura, didukung dan dibantu oleh Lembu Sora dan Jata Sura, menyatakan kepada para dewa bahwa ia menginginkan dewi Tara, salah seorang dewi yang cantik di antara para bidadari penghuni Kahyangan Junggring Salaka. Kalau para dewa tidak memberikan maka mereka akan mengobrak-abrik kahyangan, tempat tinggal para dewa itu. Untuk membasmi mereka, para dewa meminta bantuan Subali dan Sugriwa, dengan janji siapa pun yang berhasil membasmi ketiga iblis yang menjelma makluk itu akan diberi hadiah dewi Tara.

 

Subali dan Sugriwa pergi ke gua Kiskenda, tempat tinggal Mahesa Sura dan adik-adiknya. Subali bertugas memasuki gua, dan Sugriwa ditugasi berjaga di luar. Subali member ketentuan, kalau dari dalam gua mengalir darah merah itu berarti Mahesa Sura dan adik-adiknya mati terbunuh semua oleh Subali. Akan tetapi kalau dari dalam gua mengalir darah berwarna putih, itu berarti Subali yang mati. Sugriwa harus mengubur gua dengan menutup pintu rapat gua (Jawa: nableg). Lalu Subali masuk ke dalam gua dan bertanding melawan ketiga Sura bersaudara itu. Subali hampir putus asa sebab setiap kali salah satu terbunuh yang lain segera melompati dan yang mati itu bangkit kembali. Akhirnya Subali menemukan akal untuk membunuh ketiga iblis yang menjelma makluk itu. dipegangnya Mahesa Sura dan Lembu Sura lalu dibenturkannya kepala keduanya sehingga kepala keduanya pecah dan mati. Tinggal satu lagi, yaitu Jata Sura, yang segera ditangkapnya lalu kepala Jata Sura dibenturkan ke dinding gua sehingga pecah dan mati. Dari dalam gua mengalir darah merah bercampur putih. Melihat darah merah bercampur putih keluar dari dalam gua, Sugriwa mengira Subali mati bersama (Jawa: sampyuh) dengan Mahesa Sura dan adik-adiknya. Padahal yang sesungguhnya warna putih itu adalah otak para iblis yang berujud makluk itu. Kepala mereka pecah, dan otak mereka bercampur dengan darah mengalir keluar dari gua. Itulah yang oleh Sugriwa dikira darah Subali. Maka ia segera mengubur gua dengan menutup pintu gua rapat-rapat. Ia lalu meninggalkan gua dan menerima dewi Tara dari dewa sebagai hadiah.

 

Di dalam gua Subali bingung, mengapa adiknya, Sugriwa mengubur gua. Ia mencari cara keluar dari gua. Ketika ia berhasil keluar dari gua, ia justru melihat Sugriwa sedang berdua dengan dewi Tata. Meledak kemarahan Subali, mengira Sugriwa mengkhianatinya, dengan sengaja mengubur gua agar mendapat dewi Tara tanpa bersusah-payah berkelahi dengajn ketiga iblis penghuni kerajaan gua Kiskenda itu.  Subali merasa dirinya yang paling berjasa membinasakan iblis berujud makluk maka berhak menerima hadiah dewi Tara, tetapi mengapa justru Sugriwa yang menikmati hasil jerih payahnya, sedangkan ia dikubur di dalam gua Kiskenda. Maka ia segera menyerang Sugriwa. Sebenarnya Sugriwa ingin menjelaskan duduk perkaranya, tetapi Subali sudah terlanjur dibakar kemarahan, sehingga ia terus menerus menyerang Sugriwa. Terjadilah perang tanding antar dua bersaudara itu.

 

===***===

 

Subuh menjelang. Bumi masih diselimuti temaram kabut malam. Klinthing masih tiduran di lincak. Di dekatnya radio masih menyiarkan pagelaran wayang. Kliyem yang sudah bangun menuju dapur untuk menjerang air hendak membuat kopi untuk suaminya itu, ketika Klinthing menguap sambil berucap: yahh, memang begitulah manusia. Kesukaannya merasa diri paling berjasa.

Kliyem berhenti sejenak dan menimpali: apa to kang

Klinthing: ini lo yem, Subali dan Sugriwa berkelahi karena Subali merasa paling berjasa sebagai pahlawan dewa tapi kok Sugriwa yang menerima hadiah nya. Merasa paling berjasa itu lo Yem. Pembebasan 10 orang yang disandera oleh Abu Sayyaf itu juga didaku oleh beberapa pihak yang merasa paling berjasa.

Kliyem: wouw mereka berebut pujian dan hadiah ya kang. Hadiahnya dewi Tara to, ingat aku

Klinthing: iya.

Kliyem: seperti dulu kang Klinthing memperebutkan …. Kliyem tidak meneruskan ucapannya, tetapi Klinthing sontak bangun dari lincak seraya setengah berteriak: Haah???

Kliyem meneruskan langkah pelan-pelan menuju ke dapur, tetapi matanya terus melirik ke arah suaminya, kalau-kalau Klinthing mengejarnya lalu memeluk dari belakang seperti biasanya.