SIH-SIHAN



Di masyarakat Jawa, isteri itu dinyatakan dengan berbagai sebutan. Ada  yang agak bernada merendahkan harkat isteri, misalnya, sebutan kanca wingking. Sebutan "kanca" atau teman ini menunjukkan seolah-olah isteri itu bukan bagian tak terpisahkan dari suami. Sebagai teman seolah ia diperlukan ketika dibutuhkan, dan boleh pergi ketika tidak diperlukan. Di samping itu, sebutan "wingking" atau belakang menunjukkan posisi isteri itu  selayaknya hanya berada di rumah bagian belakang, yaitu dapur. Sementara suami berada di ruang tamu, isteri sibuk di dapur untuk menyiapkan segala jamuan bagi sang tamu.

 

Sebutan demikian sebenarnya sekarang sudah tidak layak dipakai. Isteri selayaknya bukan kanca wingking.  Isteri adalah pasangan. Ia bagian tak terpisahkan dari suami. Tanpa ada isteri tidak ada suami. Sebutan yang dipakai untuk menunjukkan posisi isteri yang demikian ini, biasanya adalah sisihan. Sebagaimana semua benda memiliki sisi rangkap, demikian suami dan isteri itu adalah sisi rangkap. Sisi yang satu tidak lengkap tanpa sisi yang lain.

 

Dalam praktek isteri selalu berada di sisi kiri, sebaliknya suami selalu berada di sisi kanan. Memang kanan dan kiri itu semestinya sama derajad dan kualitasnya. Tangan kanan dan kiri itu sama derajad dan kualitas. Akan tetapi, ternyata kanan dan kiri itu telah dimuati makna yang secara simbolik berseberangan. Kanan itu baik, kiri itu jelek. Kanan itu utama, kiri itu pelengkap. Karena muatan makna demikian itu maka hingga kini isteri juga masih diperlakukan sebagai sisi (Jawa: sisih) pelengkap, yang derajad dan kualitasnya masih kalah dibandingkan dengan suami. Ketika ada ujaran agar jumlah wanita yang menjadi pimpinjan atau pengurus lembaga tertentu itu sebandingkan dengan jumlah pria, misalnya, sebenarnya secara tidak sadar ujaran itu menunjukkan derajad dan kualitas lelaki lebih hebat daripada wanita, maka perlu ditolong dengan aturan agar wanita mempunyai derajad dan kualitas sama dengan pria. Aturan untuk menolong itu sesungguhnya justru menunjukkan penilaian bahwa derajad dan kualitas wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria. Kalau derajad dan kualitasnya sama maka tidak perlu ada aturan untuk menolong. Mereka bisa secara bebas berusaha menduduki posisi tertentu dalam lembaga tertentu. Kalau pun harus bersaing mereka bersaing dengan fair.

 

Sebutan lebih baik atau malah tepat mungkin adalah sihsihan. Bukan sisihan tetapi SIH-SIHAN. Isteri itu adalah kekasih suami, dan sebaliknya suami adalah kekasih isteri. Keduanya saling mengasihi dan berkasih-kasihan.

 

 

Ki Atma