Seputar Nyekar

"Tiyang Kristen nyekar, pareng mboten nggih Pak Pendhito?" Tanya Mbah Sudi suatu ketika.


Memikirkan pertanyaan di atas sungguh menarik hati. Daya tarik pertama adalah soal ada apa di balik pertanyaan demikian. Kecurigaannya tentu pantas dialamatkan kepada dogma. Mengapa dan dengan alasan apa hingga nyekar (pernah) dilarang?


Daya tarik kedua adalah munculnya keberanian Mbah Sudi untuk mempertanyakannya. Mengingat, Mbah Sudi adalah warga biasa yang tidak "makan sekolahan" -istilah untuk yang tidak mengenyam pendidikan formal. Dapat diduga bahwa pertanyaan tersebut merupakan wujud kegelisahan yang selama ini terpendam. Apa salahnya coba, nyekar di makam anggota keluarga?


Nyekar adalah ritual mengirim bunga (sekar) ke makam anggota keluarga. Tujuannya tidak jauh-jauh dari pengungkapan cinta dan pengenangan. Bunga dan doa yang berbau harum itu dipersembahkan, untuk menghidupi cita-cita mulia leluhur kita. Semangat baru ditimba untuk lanjutkan peziarahan di dunia.


Namun, mengapa harus ada larangan segala?

Ajaran dalam bentuk ujaran yang pantas dipertanyakan. Untunglah, Mbah Sudi berani mempertanyakan.


Saatnya belajar dari Mbah Sudi. Belajar mempertanyakan. Ya, semua ajaran dan tradisi agama, ketika menjauhkan dari perayaan cinta kasih, memang layak disikapi secara kritis. Tanda kalau nalar dan akal budi anugerah Tuhan terus bekerja dan berdaya untuk membangun peradaban.


Berkat pertanyaan Mbah Sudi di atas, ada kesadaran baru bagi warga GKJ Ngentakrejo. Bahwa nyekar adalah bagian dari kebaktian hidup. Maka pada acara nyadran di Kyai Mertingi kemarin, nyekar pun menjadi tantra sembah karsa. Pertama-tama nyekar ke makam cikal-bakal makam, dilanjutkan anggota keluarga.  |seti