sembahyang karna

Urusan menghafal doa, saudara-saudara muslim adalah jagonya. Betapa tidak kagum, bapak-bapak yang rata-rata sudah sepuh ternyata cukup fasih menghafal doa dalam bahasa Arab.


Baru saja, rumah Mbah Marno -kaum rois blok V Mirisewu-menyelenggarakan sembahyangan. Memohon berkat keselamatan untuk rencana hajatan pernikahan putrinya, Sabtu 7 Mei 2016.


Yang menarik, tiap kali sembahyangan semacam, anggota keluarga yang sudah tiada selalu dilibatkan. Ada waktu untuk mengenang mereka yang sudah sumare. Ada waktu untuk melakukan komuni bersama mereka yang sudah tinggal di alam yang lain. Sesaat sebelum bacaan doa dimulai, hal tersebut pasti disuarakan.


Mendengar bacaan doa yang tak tahu artinya, awal-awalnya memang susah melakukan penyesuaian. Lantas apa yang mesti kulakukan dalam kesempatan tersebut?


Sebagai pendeta, turut diundang dalam acara semacam adalah sebuah kehormatan. Untuk menghormati acara demikian, pilihanku pun turut merayakan kebersamaan dalam doa. Jadilah momen-momen semacam menjadi sarana melatih doa dengan mendengar suara di telinga. Dengan duduk lesehan, maka teknik vipassana menjadi pilihan terbaik untuk memperdalam makna sembahyang karna. |seti