Ronda

Semalam ronda di tempat Mas Jumali. Teman satu partai tiga tahun yang lalu. Golkar.


Sekarang sudah beda partai, praktis dialah yang didaulat anggota ronda sebagai ketua umum. Daripada Setya Novanto -si papa minta saham- saya lebih memilih Mas Jumali ini sebagai ketua umum Golkar. Golongan kasep rabi.


Sebelum ronda, tadi ada acara jimpitan beras di rumah Pak Heri. Acara silaturahmi rutin warga blok setiap selapan. Seharusnya malem Minggu Kliwon kemarin. Karena malam itu ada kekahan di rumah Pak Dwi, diundurlah acara jimpitan berasnya.


Dalam tiap jimpitan, acara rutinnya selain musyawarah blok adalah tahlilan. Tentu untuk penerima jimpitan yang muslim. Bila yang ketempatan non muslim tahlilan diganti dengan doa hening sebentar secara bersama menurut kepercayaan masing-masing. 



Selain tahlilan, sempat dibicarakan juga acara ruwahan. Penandanya adalah menurut kalender Jawa saat ini sudah masuk bulan ruwah. Bulan yang dipandang istimewa untuk mengingat arwah leluhur dengan rasa hormat. Maka Makam perlu dibersihkan dengan kerja bhakti besok Jumat. Pada hari Minggunya baru diselenggarakan rasulan atau sadranan.


Pada titik ini, teologi kristiani seolah bungkam pada acara semacam. Gereja di beberapa tempat pun harus gagap wicara ketika ada acara ruwahan di makam. Apakah ini pengaruh dogma Gereja yang tak punya cukup perhatian untuk menyapa ritual paska kematian?


Makam sebagai tempat keramat yang disebut kramatan itu memang tidak terlalu dipedulikan oleh teologi kristiani. Padahal dalam sejarahnya, orang Kristen awal, hidupnya tidak terpisah dengan keberadaan makam yang disebut katakombe. Di makam mereka tinggal menetap. Tidak heran bila dari makam, orang berefleksi tentang kehidupan dan pengharapan. Orang berdoa hingga menciptakan ritus untuk menyatakan bhakti kepada Tuhan.


Mengapa ya, Gereja Kristen Jawa tak punya bahan ajar yang cukup tentang makna makam dan ritualnya? Untunglah ada buku "Menyimak Tuturan Umat". Dari GKI Tegalrejo Salatiga, Pdt. Wisnu Sapto Nugroho bercerita tentang Ziarah Kubur. Paling tidak, keberadaan makam mendapat sapaan teologi lokal. |seti


|foto acara jimpitan beras di rumah pak heri|