Rindu Doa Keluarga


Perasaan itu muncul tiba-tiba. Ya, rasa rindu pada doa keluarga. Membaca cerita masa kecil Monsinyur Ignatius Suharyo adalah penyebabnya. Doa bersama dengan kedua orang tua serta semua saudara. Bagi Monsinyur Suharyo, pengalaman terkantuk-kantuk ketika doa bersama keluarga pada masa kecil beliau merupakan pengalaman yang indah.


Angan pun melayang pada suatu masa. Ketika lampu senthir adalah raja yang menerangi malam di suatu rumah tangga. Dan, malam itu salah satu keluarga di Desa Randusari, Kecamatan Slogohimo, mempersembahkan doa malam...


Sekarang, dalam kesendirian, kerinduan itu menyapa kalbu. Untunglah dalam masa-masa khusus keluarga besar GKJ Ngentakrejo menyelenggarakan acara doa harian. Seperti masa Pentakosta ini. Ada obat untuk kerinduan itu yang menjadi rasa syukurku.


Bagaimanapun, doa bersama dan doa dalam kesendirian keduanya saling mengandaikan. Ibarat dua sisi dalam keping mata uang yang sama. Mendengarkan kitab suci atau teks doa liturgi dibaca orang-orang tercinta adalah saat istimewa. Sama halnya ketika sendirian bisa berlama-lama di depan altar keluarga untuk puja mantra.


Berdoa adalah sarana menyadari keterbatasan diri dan ketidakberhinggaan Tuhan dalam waktu bersamaan. Aktivitas doa kemudian melahirkan sikap iman. Menjadi sungguh percaya kepada kebaikan Allah dan sangat mengandalkan Tuhan. |seti


《ilustrasi: http://m.hidupkatolik.com//2013/10/04/keluarga-bersekutu-dalam-sabda》