Rela Nonton AADC2?


AADC satu memang begitu. Menghipnotis banyak dara muda hingga dara yang sudah berkeluarga. Itu pula yang dialami Rela. Lengkapnya Ester Rela Intarti, pendeta pelayan khusus di Universitas Kristen Indonesia.


"Sosok Rangga dan Cinta telah menjadi ikon", tutur Mbak Rela waktu berkunjung ke pastori GKJ Tanjung Priok tempat tinggal istri. Komentar yang segera disetujui begitu rupa oleh Pdt. Temy dan Vikaris Ribka. Hanya Pdt. Neny yang cukup senyum-senyum saja.


Masalahnya, bagaimana dengan AADC dua? Masihkah sihir AADC satu berlaku setelah lebih dari satu dekade membisu dari jagad sinema? Aku tak tahu itu. Hanya saja, ketika para pendeta perempuan membincang AADC satu kok terkesan seru. Tidak hanya bagi Pdt. Temy yang kala itu masih SMU. Pdt. Ester Rela yang waktu itu sudah berkeluarga tetap dibuat terkesiap dengan film garapan sutradara Riri Reza tersebut. Sampai-sampai tetap dibuat penasaran juga dengan AADC dua.


Aku sih tidak terlalu tertarik untuk nonton film itu. Kebintangan Dian Sastro maupun Nicolas Saputra tidak mempan untuk menyihirku. Satu-satunya peluang untuk nonton film itu kalau aku diajak istriku.


Apakah AADC dua tidak menarik untuk ditonton? Tentu bukan itu kesimpulanku. Ketika nonton iklan AADC dua di tivi, memang memunculkan pertanyaan. Mengapa ucapan Cinta,"Rangga kamu jahat...", begitu ditonjolkan? Kejahatan apa yang telah dilakukan Rangga? Haruskah Rangga diperkarakan pidana oleh Cinta?


Sebenarnya, apa makna kata 'jahat' yang digunakan Cinta? Terlalu gampang kata itu diproduksi pada era informasi ini. Dikit-dikit para gadis akan bilang pada pacarnya,"Iiih, kamu jahat..." Untunglah, era pacaran sudah berlalu.


Nah, berdasarkan problem semantik di atas, memang rela nonton AADC2? |seti


[foto.dok.pdt.neny]