Puja Mantra Catur Sandhya


Catur sandhya merupakan istilah Sanskerta. Berasal dari kata 'catur' yang berarti empat dan ‘sandhya’ yang artinya cahaya. Pengertian catur sandhya menunjuk pada empat pertemuan waktu yang semuanya terhubung dengan eksistensi cahaya.  Empat pertemuan waktu yang dianggap genting itu adalah waktu malam bertemu dengan pagi, pagi dengan siang, siang dengan sore dan sore dengan malam. Pertemuan antar waktu itu dipandang sebagai waktu kritis.



Pada waktu pagi matahari baru terbit, pada siang hari matahari terik, pada sore hari matahari tenggelam dan pada malam hari adalah saat kegelapan meliputi bumi karena ketiadaan cahaya matahari. Karena itu ada empat waktu kritis yang layak diperhatikan, yakni kala fajar, kala rahina, kala senja, dan kala ratri sebagai kala hayu. Catur sandhya, karenanya menjadi waktu yang penting bagi manusia untuk berhubungan dengan Sang Pencipta Semesta dengan cara melakukan puja atau sembahyang. Dengan puja bakti demikian, diharapkan manusia selalu bertemu dan terhubung dengan karya Allah yang menyelamatkan.



Mantra adalah istilah dari bahasa Sanskerta juga. Berasal dari kata 'man' yang berarti pikiran dan 'tra' yang artinya menyeberangkan. Mantra dengan demikian adalah media untuk menyeberangkan pikiran yang tidak suci atau tidak benar menjadi semakin suci dan benar. Itu pula yang membuat mantra pantas disebut sebagai ucarana atau ucapan suci yang digunakan dalam sembahyang atau sangsiptapuja. Mengingat dalam sangsiptapuja, orang terhubung dengan sumber kesucian yakni Tuhan hyang maha suci. Dengan demikian, teranglah bahwa mantra mesti selalu bersumber dari kitab suci.


Masalahnya, sejauhmana Gereja Kristen Jawa (GKJ) memerhatikan catur sandhya sebagai sarana formasi kesadaran akan sakralitas waktu? Rupa-rupanya hal ini belum digarap secara serius oleh bidang Pembinaan Warga Gereja melalui Komisi Liturgi. Sebuah komisi yang berperan strategis untuk mengkaji ulah kridha bakti yang membumi, merasuki ruang dan waktu. Komisi yang pada gilirannya perlu menengok kembali kekayaan berbagai macam kebaktian di bumi Nusantara.


Hal di atas selalu menemukan relevansinya karena selaku Gereja tidak mungkin lepas dari aktivitas doa, sangsiptapuja atau sembahyang. Baik itu dilakukan bersama maupun sendirian saja. Untuk itulah wacana tentang puja mantra catur sandya Gereja Kristen Jawa patut mendapatkan ruang dan waktu perbincangan. Dengan tujuan, irama doa sungguh terinkorporasi ke dalam jiwa-raga Gereja seturut irama waktu sesuai siklus kalender gerejawi.


Dalam rangka ini, teologi puja mantra catur sandhya Gereja Kristen Jawa perlu dikonstruksi. Sebuah pengkonstruksian yang menimbang cermat sifat siklis dari perjumpaan antar waktu yang mempunyai daya tarik kosmik. |seti


《foto: dok.pri.seti》