Peni Laras


Peni berarti baik nan indah sedangkan laras artinya sesuai dengan suara yang pas. Peni Laras berarti indahnya suara yang pas dan tepat berkat kecermatan menabuh seperangkat gamelan berpadu dengan olah seni suara. Keindahan semacam ini muncul dari kedalaman dan kesungguhan memperlakukan gamelan. Tidak sembarangan tetapi penuh penghayatan sesuai titi nada yang ditentukan. Keindahan yang muncul sebagai hasil dari sebuah kerja keras, tekun berlatih dengan menggunakan segala kemampuan olah cipta dan rasa.



Itulah Peni Laras. Nama paguyuban kethoprak wanita di Desa Ngentakrejo, Lendah, Kulonprogo, yang disepuhi Ibu Sari Wahyuni. Hari Sabtu, 7 Mei kemarin merayakan hari ulang tahunnya yang ke-20. Kurun waktu yang panjang bagi sebuah kecintaan pada seni dan budaya Jawa. Tak heran bila para peraga sudah kelihatan tidak muda lagi. Sebuah tanya layak mengemuka, mengapa generasi muda kurang cinta pada budayanya.



Perihal pendidikan kebudayaan rupanya ada yang salah dalam tata masyarakat negri ini. Namun demikian, globalisasi tidak lantas dijadikan biang keladi. Instropeksi dirilah sebagai pengganti. Mengapa kisah seperti ini yang terjadi.



Dari Peni Laras, banyak hal menarik untuk direfleksikan kembali. Ini menyangkut paham jatidiri. Peni Laras sudah menemukan ini dari nama diri sebagai sarana komunikasi diri. Pembuktian diri ketika seperangkat gamelan itu tidak hanya menjadi benda mati, tapi diberi nafas dan jiwa berkat sentuhan cinta para paraganya yang melahirkan suara yang menembus sukma.



Keindahan suara gamelan, yang ditabuh langsung, bagiku memiliki daya magis. Keindahan nada dan suara yang menggema terasa sangat beda. Perpaduan bunyi-bunyian yang menarik hati hingga merasakan Yang Ilahi. Getaran itu makin terasa ketika gendhing Palaran menebarkan aroma Sukma Kawekas.



Sebagai orang Jawa dengan usia lebih dari seperempat abad, malam itu aku pun harus tersipu. Menyadari kesalahan diri yang kurang nguri-uri seni dan kebudayaan Jawa. Ironisnya, bapakku adalah salah satu orang yang sangat akrab dengan gamelan. Paham dengan titi laras dan sastra gendhingnya. Tapi aku?



Pendidikan dasar yang aku tempuh memang jauh dari apresiasi terhadap seni dan kebudayaan sendiri. Istilah EBTANAS, dengan lima bidang studi terpilih kala itu, begitu menjelma menjadi "tuhan" yang harus dipuja siang-malam.



Dengan tulisan ini, aku ingin menegas diri bahwa tidak ada karya seni dan kebudayaan yang seanggun dan seindah seni dan budaya Jawa. Itu karena aku adalah orang Jawa. Maka, kata-kata Sri Sultan Hamengku Buwono IX ketika dinobatkan, 18 Maret 1940 aku terakan dalam tulisan ini. "Kendati pendidikan Barat sangat mewarnai saya, saya pertama-tama seorang Jawa dan tinggal pertama-tama seorang Jawa." (diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Frans Wijsen, SJ).



Mental pemimpin seperti sosok Sri Sultan HB IX bagiku menjadi kunci bagi revolusi mental yang menjadi perhatian Presiden Jokowi. Budaya sendiri pertama-tama harus dihargai dan dihormati sebagai basis mengapresiasi keragaman budaya nusantara dan dunia. Semoga wakilku di komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan kebudayaan, Maria Yohana Esti Wijayati yang hadir pada syukuran 20 tahun Peni Laras kemarin, menyadari hal ini. |seti



《Ilustrasi: http://www.budaya-indonesia.org/Gamelan-jawa/》_|dokpridisdcardcorrupted