PENDIDIKAN




PENDIDIKAN
(renungan di hari pendidikan nasional)


Setiap tgl 2 Mei kita merayakan hari pendidikan nasional, dan bersamaan dengan itu mengenang Ki Hajar Dewantara, yang terlahir pada 2 Mei 1889.  Mana lebih tepat di perayaan hari pendidikan nasional sekarang ini (2016) kita berbahagia setidaknya bergembira atau justru sebaliknya, prihatin, merasa perih di hati, bahkan mungkin sedemikian sedih.

Saya merasa perih di hati. Beberapa waktu yang lalu di Medan ada anak-anak SMA yang setelah Ujian Nasional melakukan konvoi dan ketika diberhentikan oleh polisi sebab kap kendaraan yang dikendarai itu terbuka, dan itu berarti bisa membahayakan, salah satu siswi itu malah marah dan mengancam polisi. Sudah cukup lama ada tradisi anak-anak yang telah dinyatakan lulus lalu mencoreng-coreng bajunya dan berkonvoi di jalan raya dengan tidak mengindahkan peraturan lalu lintas.  Semua itu menunjukkan kegagalan pendidikan. Memang sekarang hampir tidak ada anak yang tidak naik kelas dan juga tidak ada siswa yang tidak lulus. Sekolah merasa malu kalau ada anak yang tidak lulus. Lagipula sejujurnya kalau ada yang tidak lulus berarti jumlah penerimaan murid baru bisa berkurang. Ini contoh yang menyedihkan dari kegagalan pendidikan. Mungkin anak yang bersekolah memang mendapatkan banyak pelajaran dan memiliki kemampuan intelektualitas yang baik. Akan tetapi pendidikan itu bukan hanya intelektualitas, melainkan lebih tentang kepribadian, karakter, mental. Maraknya korupsi di segala lini pemerintahan merupakan bukti paling jelas kegagalan pendidikan. Saya sungguh merasa perih di hati.

Andai filosofi pendidikan yang diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara sungguh-sungguh dijalani kondisi bangsa di negeri ini tidak seperti sekarang ini. Kalau setiap orang memperhatikan "ing ngarsa sung tuladha" misalnya, tidak ada elite yang korupsi. Elite justru sangat etis perilaku hidupnya sebab sadar menjadi teladan bagi bawahan dan generasi berikutnya. Kalau setiap orang melakukan "ing madya mangun karsa" bangsa ini tidak terkoyak-koyak karena perbedaan apa pun. Sebaliknya setiap orang demikian juga kelompok saling membantu, menolong, menopang, membela dan mengembangkan hidup. Kalau setiap orang memberlakukan prinsip "tut wuri handayani" kemerdekaan di segala aspek kehidupan sungguh-sungguh terjadi.  Kalau setiap orang menerapkan "silih asih, silih asuh, silih asah" terhadap orang lain, bangsa yang bhineka ini sungguh jaya.

Dari mana dimulai? Dari keluarga. Penanggung jawab utama pendidikan itu adalah keluarga. Sekolah, masyarakat, komunitas hanyalah pelengkap pelaksana.



Ki Atma