PEKA


Leluhur Jawa sebenarnya mewariskan tradisi untuk mengasah kepekaan jiwa. Kalau orang memiliki kepekaan jiwa, ia menjadi bijak sehingga bisa bersikap dan bertindak selaras dengan situasi dan kondisi yang ada. Cara mengasah kepekaan jiwa itu diungkapkan dengan tembang kinanti di Serat Wulangreh yang ditulis oleh Kangjeng Susuhunan Pakubuana IV.

Padha gulangen ing kalbu
Ing sasmita amrih lantip
Aja pijer mangan nendra
Kaprawiran den kaesthi
Pesunen sariranira
Cegahen dhahar lan guling

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara bebas kira-kira sebagai berikut:
Hendaklah hatimu belajar mengasah kepekaan, 
Jangan membiasakan diri suka makan dan tidur, 
 tetapi gapailah keperwiraan 
dan usahakan dirimu mencegah nafsu makan dan tidur

Dalam satu bait perihal makan dan tidur disebut dua kali itu dapat dimaknai bahwa nasihat agar orang tidak memiliki kecenderungan suka makan dan tidur itu sedemikian penting. Kepekaan batin itu layak diasah dengan mencegah nafsu makan dan tidur. Orang yang cenderung makan, tidak bisa tahan lapar, akan sulit berkonsentrasi, sehingga juga tidak dapat memiliki ketajaman batin. Ia tidak akan memiliki ketajaman naluri memaknai  peristiwa atau hal yang terjadi atau ditemuinya dalam hidup. Demikian pula halnya dengan orang yang memiliki kecenderungan tidur. Orang yang suka tidur itu adalah orang malas. Ia tidak memiliki kepekaan bertindak. Sebaliknya orang yang mampu menahan lapar dan kantuk akan memiliki ketajaman batin. Mungkin karena kecenderungan suka makan dan tidur itu banyak orang yang pekok, sama sekali bukan peka.


Ki Atma