Paperless

Sacara pribadi, saya tertarik pada wacana yang sedang dikembangkan seorang teman, yaitu perihal paperless; meminimalisir bahkan mencari solusi alternatif atas penggunaan kertas dalam keseharian. Ironisnya, tidak sedikit dari penggunaan kertas-kertas tersebut 'useless'. Misal, tutur teman saya dalam akun facebooknya: warta jemaat di gereja, surat-surat keputusan, liturgi ibadah, dan semacamnya. Penggunaan kertas-kertas ini seolah tidak terlalu penting karena usai itu, kertas-kertas ini toh dibuang atau dibakar dan tidak dapat didaur ulang. Padahal, semakin banyak kertas yang kita gunakan, semakin banyak pula hutan yang rusak. Lebih tragis lagi, kita tidak pernah melakukan reboisasi/usaha apapun, demi kelangsungan hutan di masa depan!
Teman saya mengusulkan solusi alternatif penggunaan kertas ini menjadi pemanfaatan teknologi digital/visual, seperti: LCD, gadget, media sosial, berita elektronik, dan semacamnya.

Berangkat dari pengalaman saya sendiri, dimana beberapa waktu lalu, saat beristirahat di sebuah Masjid daerah Semin, Gunung Kidul, saya melihat 2 (dua) buah pengumuman tertempel di sana. Pertama, berisi informasi dana infaq Masjid selama 1 (satu) tahun yang dituliskan pada white-board dan bisa dihapus/revisi sewaktu-waktu. Kedua, berisi jadwal para penceramah di Masjid tersebut selama 1 (satu) tahun yang ditulis disebuah banner besar.
Sudah bisa menangkap apa yang kira-kira ada dibenak saya?
Ya, benar!
Melalui pengumuman seperti ini, pengurus dan jamaah Masjid setidaknya sudah meminimalisir penggunaan kertas! Disamping itu, pengumuman seperti ini cukup efektif karena dipasang di tempat umum, dimana setiap orang bisa membaca, termasuk saya. Daripada setiap pengumuman, dsb ditulis di kertas dan dibagikan kepada banyak orang, namun usai itu dibuang begitu saja/dibakar. Sampah menumpuk, polusi lingkungan, hutan semakin rusak, dan kita tetap berpikir everythings gonna be alraight!
(Andreas Sabat Prayogi)