nyekar [lagi]


nyekar sudah menjadi kerutinan dalam keluarga kami.
baik keluarga saya maupun keluarga istri selalu punya alasan untuk pergi ke makam dan nyekar di sana.

hari ini juga demikian,
setelah semalam menyelenggarakan persekutuan doa, pagi ini kami berjalan bersama menuju ke makam keluarga di pampang, rongkop, gunungkidul.
makam itu di atas bukit, dengan sebuah bukit lagi yang lebih tinggi persis di utaranya, sedangkan lembah di selatan makam di bawahnya adalah telaga tadhah udan, yang entah saya tidak tahu apa namanya.
makam keluarga di puncak bukit ini dimiliki oleh eyang dari istri saya yang rumahnya dulu di sebelah timurnya. di depan rumah eyang itu dulunya kebun jeruk yang luas dan tegalan dengan padi gaga.

jadi, 
kalau hendak ke makam, rutenya adalah parkir di halaman bekas rumah eyang, lalu berjalan kaki ke barat mendaki bukit sekitar tujuh menit hingga ke makam.
makam eyang dan adik-adiknya ada dalam sebuah cungkup. sedangkan makam dari generasi di bawahnya, putra-putrinya, ada di pelataran di bawah sebelah baratnya.
berada di kompleks makam ini seperti terbayang janturan atau deskripsi dalang dalam menggambarkan negeri gajah oya, atau negeri kuru, yang membelakangi gunung, menghadapkan bandar laut dan di kiri-kanannya persawahan subur.
agaknya, eyang punya naluri yang serupa dengan negeri kuru tadi dalam memiih lokasi permakamannya. atau, ini memang naluri asli orang jawa dalam berhadapan dengan yang ilahi dan gunung?

karena keluarga sudah tersebar, maka nyekar adalah identik dengan mengumpulkan kembali serakan itu. dan permakaman adalah lokasi berkumpulnya kembali keluarga menjadi satu. baik yang bisa hadir secara badani maupun yang ada dalam ingatan kami.
dan perjumpaan perlu dirayakan:
ada bunga yang harum dan berwarna-warni, ada cerita syukur maupun keprihatinan yang dibagi, dan semuanya diwujudkan dalam tindakan membersihkan makam dan menabur bunga di atas nisan.

tidak usah memakai atribut agama apa pun, berkumpul di pelataran di puncak bukit tadi adalah kerinduan universal setiap orang: berjumpa dengan sesama saudara, dengan leluhur dan dengan yang ilahi, di perbatasan antara bumi dan langit.

pergi ke makam, ke tempat perjumpaan, seperti menanggapi undangan ke perjamuanNYA.
"berbahagialah yang diundang ke perjamuanNYA"