Nyadran: Tradisi Nenek Moyang yang Banyak Manfaat

Itulah sebagian bunyi sambutan tertulis Bupati Kulonprogo yang disampaikan Bp. Eko Wisnu Wardana staf ahli bupati pada acara nyadran di makam Kyai Mertinggi, Minggu, 22 Mei 2016. Kyai Mertinggi atau dikenal dengan Makam Kalongan adalah kompleks makam di dusun Temben, Ngentakrejo, Lendah, Kulonprogo.


Pak Bupati Kulonprogo rupanya memaknai tradisi nyadran dengan menempatkan tradisi itu dalam konteks kemasyarakatan. Ketika banyak manfaat yang dirasakan warga masyarakat, mengapa harus dibabat? Sungguh, pemikiran yang mencerahkan. Mengingat, apa arti ajaran agama yang dianggap suci itu bila malah merusak harmoni?


Masalahnya, mengapa ada saja yang bangga dalam kata-kata bahwa nyadran itu melanggar takrir? Alasannya ada larangan kuburan dijadikan tempat kumpul-kumpul untuk kegiatan nyekar bersama. Bila hal ini yang dijunjung tinggi, praktis keberadaan makam yang oleh warga masyarakat dianggap suci pasti tidak terpelihara.


Berkat tradisi nyadran setiap bulan ruwah, makam-makam di berbagai tempat pun bersih, rapi dan indah. Ini tentu lebih baik dari pada membiarkan makam tidak terpelihara seperti budaya orang nomaden yang memang tidak pedulian. Budaya Jawa berbasis dari tata kehidupan orang yang menetap. Bila kemudian ada perhatian terhadap makam dengan bekerja bhakti tentulah sebuah keniscayaan.


Lahirnya tradisi nyadran tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya orang yang hidup menetap dan membangun komunitas. Sebagai komunitas tentu membutuhkan sarana komunikasi bersama melalui kumpulan hingga makan bersama. Ketiganya sebagai penopang eksistensi kehidupan bersama yang guyub-rukun. Termasuk ketika berkumpul di kompleks makam untuk kerja bhakti hingga berpuncak pada acara kenduri.


Tradisi nyadran dalam masyarakat Jawa sudah berusia panjang. Nyadran merupakan perpaduan tradisi lintas zaman. Berawal dari upacara sradha pada zaman Hindu yang dalam perkembangan bertemu dengan para wali, sang penyebar agama Islam. Sampai di sini, nyadran tidak ditiadakan namun diperkaya dengan doa-doa Islami, seperti yang terjadi di makam Kyai Mertinggi.


Sekalipun demikian, mengingat ahli waris makam ada juga warga kristianinya, panitia pun memberi kesempatan untuk menyelenggarakan kebaktian sebelum kedatangan Pak Bupati. Jadilah, nyadran menjadi milik warga masyarakat. Semua agama bisa berpartisipasi untuk merayakan kebersamaan, memayu endahing gesang patembayatan. |seti