NYADRAN : Indahnya Kematian




Besok nyadran. Mendoakan leluhur. Agar mempersiapkan jalan terbaik (karena sudah duluan) bagi kita. Bisa saja setelah menulis note ini saya mati. Bisa saja masih belasan puluhan tahun lagi. Intinya kapanpun kita musti siap mati.


Kematian itu indah. Harus disongsong dengan senyum lebar. Pokoke neg aku mati pingine memeluk padi, sayur bayam, enthik dan pisang. Berpakaian Jawa rakyat, peti kayu sederhana tanpa plitur, berselimutkan bendera merah putih. Sepanjang hari pemakaman diiringi gamelan jawa gadon atau kentrung. Organ tubuh yang masih baik disumbangkan kepada dunia kedokteran. Tidak perlu misa. Cukup ibadat saja dipimpin oleh Ketua Lingkungan setempat, tapi mintakan berkat pada Pastor yg tidak terlalu nggagas liturgi dan dogma, Pendeta Kristen muda , Bhikku, pemangku resi Hindu di desa dan minta tahlil sama kawan-kawan Muslim yang sehari-hari bersama.


Sekali lagi kematian itu indah.
Kematian harus dipeluk dengan cinta dan rindu.
Maka perjuangkan kehidupan, beri dirimu untuk orang yg paling tidak diinginkan siapapun, seberapapun beratnya itu. Mari berani mati. Berani mati demi orang terdekat kita, berani mati membela alam, berani mati membela anak, dsb. Minimal kalau mati, sedang membela sesuatu dan sedang berbuat baik. 

*ini bukan tantangan pada bandit, ini hanya pernyataan siap mati dalam renungan nyadran ini.

Selamat Nyadran.


Salam : Seto Wijaya 



(Penulis adalah seorang pegiat lintas iman di kabupaten Klaten. Pecinta budaya dan pejuang HAM)