Narasi Dian Sastro


Semalam ia cerita film-film dongeng Hollywood
" di cerita aslinya, saudara Cinderela ada yang memotong jarinya, ada yang digiling supaya masuk sepatu kaca" saya menyimak dengan baik lalu berkomentar pendek
" kemampuan utk meredifinisi suatu narasi itu penting "

Saya jadi ingat Beauty Industrial Complex, situasi ketika kecantikan yg dinarasikan dunia industri berkembang begitu rupa hingga menjadi sebuah standar kecantikan publik.
" Hebatnya, skripsi Dian Sastro itu tentang Beauty Industrial Complex. Jadi ia sadar betul apa arti kecantikan bagi masyarakat & dunia industri, entah industri kosmetik, parfum, pakaian, sepatu, bumbu masak. Dian menjadi salah satu etalase industri kecantikan yg bernilai tinggi. Perusahaan membayar mahal agar artis memakai produk dan atau yang bisa menjadi atribut khas bagi dia". Dia menukas
" Apakah itu sebabnya, ada banyak iklan di sepanjang film. Dari mobil, minuman, kosmetika sampai penginapan?"
" Ya, tepat sekali! " saya tegaskan.
" Tiap tahun sabun Lux memilih kemudian menetapkan icon kecantikannya. Ada Widyawati, Nadya Hutagalung, Luna Maya, Tamara Blezynski termasuk Dian Sastro. Itu proses yang melibatkan ribuan orang, milyaran rupiah dan dikabarkan ke jutaan orang. Dunia sosialita kita dibangun oleh industri yg melibatkan triliunan rupiah. Ada media masa, televisi & koran disana. "
Dia tampak menyimak keterkaitan dongeng dan keseharian.

" Jadi ya jangan terlalu bangga kalau nanti sekolah insinyur tapi dalam menentukan standar kecantikan masih didikte atau dikonstruksi pasar. Ciptakan narasimu sendiri"

Dalam perjalanan pulang, kami masih ngobrol soal Marvel, DC comics dan film. Sampai rumah, masih sempat membaca kitab suci, lalu berdoa sambil memohon kekuatan, agar kami bukan saja mampu menikmati cerita orang lain, tapi juga mampu menciptakan narasi kami sendiri, baik itu narasi kecantikan, kesuksesan, kebahagiaan.

" Karena Engkaulah yang punya narasi, baik di sorga & di dunia. Amin"

_ Handaka B. Mukarto