Merindukan Corpus Christi


Corpus Christi adalah Tubuh Kristus yang tergantung di salib. Di Gereja Katolik banyak ditemukan, di Gereja Protestan cenderung dilupakan. Tak heran bila GKJ yang bercorak Calvinis pun lebih suka dengan memajang salib yang bersih. Tanpa tubuh yang menempel di salib. "Tuhan Yesus sudah naik ke sorga", demikian kalimat penyahihnya.


Untungnya saja bagi orang protestan yang ingin memajang salib bercorpus di rumahnya tidak dilarang majelis gereja. Maka semacam Front Pembela Salib Tanpa Corpus yang sweeping di rumah-rumah juga tak dibentuk oleh majelis gereja. Buktinya, salibku yang ada corpusnya masih setia menemani doa harianku.


Namun, dengan agak melamun, mengapa merindukan Corpus Christi, ya? Bukankah hal itu akan menjebak diri? Masuk dalam perangkap dogma, seolah visualisasi corpus christi seperti itulah yang paling benar. Ketika ada visualisasi yang beda dari biasa bersegera dicap sesat.


Nalar kritis tetaplah kuncinya. Perasaan rindu pada corpus cristi janganlah meninggalkan akal budi. Keberadaan Corpus Christi sarat dengan edukasi. Ingatlah selalu bahwa yang Ilahi itu benar-benar datang ke alam manusiawi. Ada jejak kaki-Nya di kayu salib. Akibatnya kayu laknat itu pun berubah menjadi pohon kehidupan.


Dengan memandangi hingga berkontemplasi di depan corpus itu, imajinasi tetap menemukan kelimpahan kemerdekaannya. Di sinilah pentingnya memandangi Corpus Christi dengan akal budi.


Keberadaan Tubuh Tuhan sebagai sisa peninggalan renaisance masih signifikan menjadi sumber permenungan mendalam. Ketimbang hilangnya corpus di kayu palang digantikan kata-kata berbusa dari pendeta yang tanpa hiraukan titik koma saking semangatnya.


Keberadaan corpus itu justru menyadarkan supaya mata tak hanya tertuju pada langit seperti dewa Naradha. Tanya malaikat ketika para murid yang bengong memandangi langit menarik untuk diotak-utik. "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."


"Yesus akan datang kembali." Pesan ini begitu kuat. Sudut pandang para murid yang tertuju ke langit ditarik malaikat supaya menuju bumi kembali. Bumi adalah medan karya Tuhan. Bumi sudah dikunjungi Tuhan. Ada jejak kaki Tuhan di bumi yang membuat bumi ini suci. Menjaga kesucian bumi semestinya menjadi panggilan suci para pengikut Tuhan. Bagaimana ini mesti dikerjakan?


Kesucian akan nampak bila ada cinta kasih. Kesucian akan hilang ketika kekerasan melenggang. Tidak mungkin kesucian bertahan dalam diri orang-orang yang suka kekerasan. Ringkasnya jalan kekerasan bukanlah jalan kesucian. Sekalipun dalihnya membela Tuhan.


"Tuhan adalah cinta", Rasul Yohanes berkata. Cinta Tuhan pula yang membuatnya datang ke dunia. Menjejakkan kaki di bumi hingga tubuh suci-Nya dipajang di kayu palang. Ini bukan kisah Tuhan yang malang, namun kisah cinta Tuhan yang anti kekerasan. Kesucian bumi akan terjaga bila cinta kasih terhadap semesta dirayakan.


Mengenangkan Tubuh Tuhan ternyata menyimpan makna mendalam. Dari dalam Tubuh Tuhan, mengalirlah kejelasan tentang cinta-Nya. Maka jangan heran bila menjadi kerinduan. 


Sayang selaksa sayang, Tubuh Tuhan tidak jarang menjadi bahan dagelan. Menjadi komedi teologi tanpa cita rasa humor yang berarti. Ironis memang. Tontonan komedi justru dipentaskan pada saat yang dianggap keramat. Bukan rasa hormat yang tersingkap, malah sikap penuh canda yang mencuat.


Kontekstualisasi perjamuan suci pun kehilangan daya komunikatifnya. Saat jadah atau timus dikonsekrasi dan dibagi-bagi seolah Tubuh Tuhan menghilang. Bagaimana Tubuh Tuhan akan bersemayam, ketika menerimanya kita sibuk bercanda tawa, sambil lirik sana-sini, hendak mengkonfirmasi bahwa kita tak bisa berkonsentrasi.


Corpus Christi, Tubuh Tuhan yang hilang, tetap menjadi kerinduan. |seti


[ilustrasi: dokpri.seti]