Merapi Merbabu



Bulan Mei ini ada dua perhelatan besar yang diusung oleh dua sinode gereja yang berkiblat budaya lokal. GKJW mengawali langkah Road Service mereka pada tanggal 22 Mei 2016 di Mojokerto. Ini adalah awal dari rangkaian tour yang direncanakan terselenggara di empat tempat yang berbeda. Sedangkan GKJ mengadakan acara akbar bertajuk “Hari Lansia Nasional dan Pentakosta Adiyuswa GKJ 2016” pada tanggal 28 Mei 2016 di pelataran parkir candi Borobudur.

Kedua acara tersebut seolah menunjukkan “jati diri” dari masing-masing gereja. GKJW mencoba menyentuh dan membangunkan para remaja dan pemuda untuk gumregah dan merasa memiliki gereja. Slogan “Aku untuk GKJW” menjadi tema Road Service GKJW 2016. “Aku” di sini merujuk kepada pemuda dan remaja. Sedangkan GKJ mencoba untuk menghimpun para lansia untuk bersekutu dalam Ibadah Raya. “Nyebar Katentreman” adalah tema yang diusung dalam Ibadah Raya tersebut. Diharapkan para lansia sesudah Ibadah Raya ini dapat menyebarkan ketentraman dalam kehidupan.

Kedua acara sama-sama kreatif. Yang membedakan adalah pelaku di balik kekreatifitasan tersebut. Konteks sinodal dan presbuterial sangat mempengaruhi kinerja orang-orang di balik layar. GKJW yang sinodal menggerakkan seluruh pendeta muda untuk bekerja sama membangun sebuah perhelatan. Para pendeta muda dari empat mata angin pun bersatu untuk urun rembug dan pelayanan dalam acara ini. Sedangkan GKJ yang sangat kental presbuterialnya menyerahkan perhelatan akbar ini kepada satu klasis, yakni klasis Magelang, sebagai tuan rumah dan sekaligus panitianya. Dari sinilah bisa dirasakan adanya perbedaan “warna” dan “corak” kedua perhelatan tersebut. Road Service GKJW lebih menunjukkan “ini lho yang khas dari GKJW, sinode kita bersama”, sedangkan Ibadah Raya Lansia GKJ lebih menunjukkan, “ini lho keunikan dan kekhasan dari Magelang, klasis kami.

Menyentuh dan membangkitkan pemuda-remaja itu penting dalam kehidupan bergereja. Tetapi memelihara iman dalam persekutuan para lansia, itu pun juga tak kalah pentingnya! Menunjukkan keesaan sinode itu merupakan hal yang indah dalam pelayanan. Tapi menunjukkan keunikan masing-masing gereja dan klasis pun juga tak kalah indahnya dalam kehidupan bersama! 

Seperti halnya Merapi dan Merbabu. Dua gunung yang menjulang berjajar, tapi memiliki karakteristik yang berbeda. Yang satu meledak-ledak dengan gairah mudanya, yang satunya lagi tenang dengan jiwa sepuhnya. Yang satu ujungnya meruncing membentuk kerucut, yang satunya lagi  puncaknya tumpul. Demikianlah dua gereja yang hidup berdampingan : GKJW dan GKJ yang seiring sejalan di dalam pelayanan mereka dengan keunikan masing-masing. Sukses selalu untuk pelayanan GKJW dan GKJ!

Aku untuk Gereja, lan mangga sami nyebar katentreman! (dpp)