Mengingat Peran Perempuan


"Bunda-Mu Maria selalu terbuka bagi sabda-Mu, maka bimbinglah juga langkah kami hari ini seturut perkataan-Mu."



Teks doa harian hari ini menjadi bahan kontemplasiku. Terutama mulai hari Jumat kemarin, GKJ Ngentakrejo menyelenggarakan doa sembilan hari menantikan lagi karunia Roh Suci. Sebuah laku sembahyang dalam kerangka menghayati kembali kisah paska kenaikan Tuhan hingga Pentakosta.


Adalah Lukas yang mengisahkan. Betapa para murid bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Yang menggembirakan, keterlibatan para perempuan, dan tentu peran Maria, ibu Yesus, masuk dalam catatan Lukas. (Kisah Para Rasul 1:14).


Sebuah misteri hendak disingkapkan, tiap kali Lukas mengawali tulisannya. Adalah peran perempuan sebagai induk kehidupan benar-benar tidak diabaikan. Tema tentang kelahiran mengawali tulisan Lukas yang pertama. Dari pemberitahuan hingga berita kelahiran. Tentunya kelahiran Yesus dari rahim Maria menjadi puncaknya.


Pola yang sama diterapkan dalam tulisan Lukas yang kedua yang berjudul Kisah Para Rasul. Peran Maria yang turut menemani para rasul berdoa tidak bisa dipandang sebelah mata. Kelahiran eklesia (Gereja) pada hari raya Pentakosta atau Riaya Panen -jadi bukan riaya undhuh-undhuh loh ya- membutuhkan peran perempuan, Maria.


Lukas tentu sangat paham. Maria adalah perempuan yang dikaruniai Roh Kudus. Rahim Maria telah dipersembahkan menjadi tahta Roh Kudus, yang memungkinkan lahir-Nya Juru Selamat Dunia, Sang Kepala Gereja.


Doa sembilan hari menanti kedatangan Roh Suci sungguh mengungkap misteri inkarnasi secara pasti. Doa sembilan hari para murid bersama Bunda Maria adalah kunci kelahiran Gereja pada hari raya Pentakosta. Doa novena ini pun mengingatkan pada memori suci ketika selama sembilan bulan perempuan bersahaja itu menantikan kelahiran Putera terkasih Bapa.


Entah tahun 2007, 2008, atau malah 2009, doa sembilan hari ini aku usulkan menjadi kegiatan alternatif pada masa Pentakosta. Saat itu aku menjadi salah satu tim penyiapan bahan yang diterbitkan LPPS, Yogyakarta. Yang menarik, akhir-akhir ini malah menjadi doa sepuluh hari. Tidak tahulah aku, bagaimana tradisi novena lalu menjelma menjadi decima oleh LPPS.


Sekalipun begitu, yang ini masih disayangkan, kesadaran teologi doa novena yang berada dalam konteks menanti kembali karunia Roh Suci belum menjadi kata kunci dalam teks liturgi atau bahan renungan yang disediakan LPPS lewat pola decimanya.


Ternyata, persoalan utama penyediakan materi khusus dari LPPS sejauh pengamatan adalah perihal teologi mangsa kala. Apakah ini telah menjadi identitas gereja protestan yang tidak peduli pada konteks liturgi? |seti




[ilustrasi: http://savannahcathedral.org/special-features/]