meminjam halaman borobudur

salah satu panel dari kisah mahakarmawibangga hasil potretan kassian kefas

pelataran candi borobudur kemaren siang dipenuhi oleh para lansia warga gereja-gereja kristen jawa. seorang rekan yang melaporkan dari sana memberi angka: limabelas ribu, katanya.

limabelas ribu orang dikumpulkan, tapi tidak untuk borobudur, tidak ada sangkut pautnya dengan monumen yang dirancang untuk banyak orang bergerak mengelilinginya secara pradaksina [prosesi yang bergerak mengitar dengan menganankan tempat suci]
borobudur kemaren hanyalah saksi bagi ribuan orang yang sedang menghadap panggung, tempat para pemimpin umat dan juga gubernur jawa tengah bicara dan berfoto bersama.

borobudur itu dulunya adalah destinasi, papan jujugan, bagi orang yang sedang berziarah. bahkan sebelum buddhisme mengambil alihnya menjadi monumen monumental seperti sekarang ini.

dari dulu, orang jawa sudah menghormati tempat-tempat khusus. tempat yang mendatangkan rasa takjub pada yang mahakuasa. dan bukit borobudur itu adalah salah satunya. moyang kita berdatangan untuk naik ke puncak yang dulu adalah berupa punden berundak.

ketika buddhisme datang mereka pun menghormati monumen yang sudah lebih dulu ada itu dengan memperbaiki dan menyempurnakan sesuai tradisi buddhisme. dari jaman ke jaman mereka menambahkan batu-batu penguat di bawah punden tadi sehingga punden yang semula hanya di puncak kemudian meluas ke bawah.
jadi, penambahan batu-batu di bawahnya itu makin memperkuat yang sudah duluan dibangun. tidak merombak. generasi baru datang susul-menyusul, mereka menyumbang pada penguatan bukit itu.
monumen itu pun semakin indah, semakin relevan dengan tiap jaman, oleh karena kerja bersama antara mereka yang sudah mendahului dengan mereka yang datang belakangan.

kesempurnaan borobudur terjadi pada abad ke-8, ketika seluruh permukaan bukit tadi tertutup batu dan dilepa dengan bajralepa, lalu relief borobudur pun diberi warna-warni semarak. borobudur dulunya tidak hitam batu seperti sekarang, tapi berwarna-warni seperti layaknya tempat ziarah buddisme di india maupun di mana-mana tempat.

persoalan terjadi ketika mereka hampir selesai menambahkan dinding batu paling bawah.
saking beratnya batu-batu di atasnya, maka kaki terbawah itu jugrug. lalu, dinding terbawah yang sudah kadhung dihiasi dengan relief mahakarmawibangga itu pun ditutup batu-batu polos untuk menahan agar keseluruhan struktur borobudur tidak runtuh. sampai sekarang, kita hanya bisa melihat relief-relief itu terbuka di sudut tenggara borobudur.

untunglah, seorang fotografer pribumi pertama indonesia [seorang yogya dan kristen, yang bernama kasian kefas, lebih sering ditulis sebagai cassian cephas] sudah mengabadikan keseluruhan relief itu.

borobudur kemaren siang itu -sayangnya- hanya dipinjam halamannya. tidak ada yang menghidupkan batu-batunya untuk bicara tentang bagaimana orang jawa dan orang kristen ambil bagian dalam laku spiritual ziarah.

tapi siapa orang kristen yang masih ngerti makna spiritual ziarah? orang kristen sudah telanjur diajar untuk amnesia, untuk melupakan masa lalu dan bergerak ke depan. ungkapan 'gereja kristen reformasi itu selalu harus direformasi' dipahami seperti orang modern memahaminya secara mekanistik: melupakan yang telah terbina sejak di masa lalu dan berlagak tahu ke depan.

dan borobudur kemaren jadi saksi itu. saksi dari pemutusan tradisi penghormatan pada prestasi leluhur, justru ketika limabelas ribu orang lansia datang di pelatarannya. borobudur hanya jadi background mereka berfoto bersama gubernur...

cilakak!