Manusia Perlu Makna

Aku galau mendengar kabar mbak Wiwik kena kanker payudara. Galaunya semakin menjadi kala melihat kepalanya yang licin karena efek kemo. Selain memikirkan derita yang dialaminya, hatiku juga susah memikirkan Tuhan. Sebenarnya Tuhan itu baik atau jahat? Di mana posisi Tuhan dalam peristiwa ini?


Dulu aku pernah terobsesi pada pertanyaan itu: why bad things happen to good people? Mengapa penderitaan menjadi bagian dari hidup semua orang, tanpa kecuali. Banyak buku kubaca. Banyak waktu kuhabiskan untuk berpikir. Dan lebih banyak lagi kuhabiskan untuk marah-marah pada Tuhan.


Aku pernah bertemu dengan orang yang mengaku ateis. Ia menuturkan menjadi ateis karena melihat begitu banyak penderitaan. Ia jadi sulit percaya pada keberadaan Tuhan yang mengijinkan manusia mengalami banyak penderitaan.


Lalu aku ikut kuliahnya Karlina Supelli di STF Driyarkara. Topiknya sains dan sekularisasi. Ada penjelasan menarik dari beliau. "Tugas agama ada pada tataran makna. Tugas agama bukan menjelaskan. Apalagi menjelaskan hal-hal yang ilmiah, terangnya. Misalnya, gempa bumi. Terlalu gampang orang menjelaskan bahwa gempa bumi terjadi karena Tuhan murka."


Jadi, menurut beliau alam itu tidak kejam, tidak benci juga pada manusia. "Kalau tekanan di perut bumi semakin besar, maka otomatis lempeng-lempeng tanah akan bergeser yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi", itu saja penjelasannya. Manusianya saja yang terlalu sensi berpikir bahwa alam marah atau Tuhan murka.


Lalu di mana posisi Tuhan? Manusia tidak puas hanya menerima penjelasan. Manusia perlu makna. Maka, ia mencari makna. Ia berusaha memaknai apa yang sedang terjadi. Dan ini tidak gampang.


Kalau tidak hati-hati, tidak mendalam, atau terlalu buru-buru atau sok tahu, orang bisa jadi suudzon. Suudzon pada diri sendiri: ‘memang pantas aku menerima derita ini karena dosaku banyak’. Pada sesama: ‘itu adalah hukuman Tuhan karena perbuatannya’. Pada Tuhan: ‘Tuhan memang tidak sayang aku’.


Memaknai peristiwa adalah proses berjumpa dengan Tuhan. Menemukan Dia dalam segala. Walau jebakannya banyak. Walau sering salah kira. Tapi, manusia tidak mau berhenti mencari makna, mencari Tuhan. Karena dengan begitu, hidup ini menjadi berharga. Dan semua derita itu menjadi worthed untuk dipikul. ☆wisnu tri handayani☆