Logika Mistika


Judul ini memang asal saja. Maka kelemahannya segera terbaca. Yang logis menghindari yang mistis dan sebaliknya yang mistis pun emoh bertemu dengan yang logis. Gambaran ini mirip dunia kawula muda yang saling jatuh cinta namun tak bisa "yang-yangan."

Artinya, hubungan antara logika dan alam mistis telah menjelma menjadi polaritas sepanjang segala abad. Mungkin hingga dunia kiamat. Hal ini mengingatkan saja dengan hubungan antara logika Aristotelian dengan simbol Platonis.

Puncaknya pada era Pencerahan yang membuat gerah kaum Romantis. Ada keangkuhan nalar menurut mereka. Pada sisi lain pencerahan ingin membawa orang keluar dari kegelapan alam khayalan.

Menurut Ernst Gombrich -sang pembicara unggul perihal tempat simbol dalam sejarah kesenian Eropa- sejatinya kaum Pencerahan tidak serta merta menyingkirkan simbol-simbol dari rumusan-rumusan mereka.

Metafora, bagaimanapun tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang irasional. Metafora memiliki daya yang memperluas cakrawala dalam kerangka rasional. Itulah yang disebut sebagai agen penuh kekuatan yang beroperasi dalam alam bawah sadar manusia. Dari alam bawah sadar ini disadarilah akan eksistensi yang gaib dan ajaib, yang sekaligus tak terperikan oleh hukum akal budi. Dari persoalan ini, si logika mistika perlu perlu menjadi perhatian ilmu teologia.

Melalui logika mistika, diharapkan peran dan fungsi agama menemukan lagi gairah dan relevansinya dalam konteks sekularisasi. Cara pandang ini jelas berbeda pemaknaan dengan pandangan Tan Malaka.

Logika mistika, bagi Tan Malaka adalah biang keterbelakangan suatu bangsa. Penyebabnya, orang suka berkhayal bahwa apa yang terjadi di dunia ini begitu dipengaruhi oleh kekuatan keramat di alam gaib. Logika seperti ini berakibat melumpuhkan daya-daya manusiawi yang semestinya bisa menangani masalahnya sendiri.

Kegelisahan Tan Malaka dapat dipahami dalam konteks aktualisasi dirinya yang tentu sangat geregetan dengan penderitaan bangsanya. Sebagai pemikir yang berbakat, ia pun mengusulkan jalan keluar melalui tiga tahap: dari logika mistika lewat filsafat menuju ilmu pengetahuan. Benar-benar putra Pencerahan yang luar biasa.

Dalam perkembangan, tentu Tan Malaka belum mengalami kegelisahan zaman ini. Ketika keangkuhan logika membawa orang pada kegersangan makna. Orang sekarang butuh ruang pemahaman tentang simbol dan metafora.

Pemikiran simbolis, menurut Mircea Eliade, memungkinkan manusia untuk bergerak dengan bebas dari tingkat realitas yang satu kepada tingkat realitas yang lain. Di sinilah ada keasyikan yang memungkinkan manusia hidup lebih mendalam, lebih misterius daripada yang diketahui melalui pengalaman sehari-hari.

Itu berarti logika mistika yang memberi tempat pada metafora dan pemikiran simbolis pantas menjadi perbincangan teologi dan liturgi. Arahnya, kesadaran akan yang kudus itu tetap dapat dirasakan melalui waktu-waktu khusus, tempat-tempat khusus, pola ritual, narasi yang diwacanakan, hingga tembang yang didendangkan.

Logika mistika sejatinya menjadi obat mujarab supaya akal tidak segera menua dengan keangkuhannya. Melalui gambaran simbolis dan metaforis jiwa manusia dituntun untuk menyadari akan asal-usul dan tujuan ilahinya serta memampukan jiwa itu bergerak maju menuju tujuannya.

Logika mistika adalah kesadaran akan daya kekuatan intuisi dan imajinasi, yang tumbuh dalam keterbukaan pada realitas transenden, tanpa menguap ke dalam alam mistis yang khayal belaka. |seti