Liturgi Indah

Minggu, 4 Januari 2015 menjadi ibadah minggu yang sangat berkesan bagi saya. Minggu epifani, menurut kalender gerejawi yang disepakati. Bukan hanya karena hari itu adalah minggu pertama di tahun 2015, namun lebih dari itu, saya begitu bersukacita dan sangat terkesan dengan Liturgi Ibadah hari itu yang berjudul_dalam bahasa Jawa_: Nuladha Tiyang Majus.


Sebagai warga GKJ, saya sungguh bersyukur, bersukacita, dan bangga dengan Tata Panembah yang disusun pada hari tersebut, yang disusun dengan sangat cermat dan indah, berangkat dan berakar dari Kabudayan Jawi, yang membangun harmoni sembah mulai dari sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa, dan sembah karsa.


Dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih kepada hambaNYA yang sudah menyusun liturgi tersebut_sungguh menjadi berkat buat saya. Sekalai lagi saya matur, saya bersuka-cita dan bangga dengan liturgi tersebut.


Bersama ini pula, saya mengusulkan kepada Bapelsin dan lembaga terkait untuk terus mengembangkan model Tata Panembah yang memang mencerminkan ke_GKJ_an di masa mendatang.


Setahun terakhir, liturgi yang disusun dalam berbagai event gerejawi di GKJ mengalami perkembangan yang luar biasa: dari liturgi yang awalnya kering, sederhana, minim muatan budaya Jawa, menjadi liturgi yang megah, semarak, dan bisa semakin membantu jemaat untuk semakin menghayati kehidupan rohaninya melalui peribadatan.


Dari sekian liturgi indah yang pernah dibuat dan saya tahu, selama saya menjadi warga GKJ_yang hampir 40 tahun ini_liturgi tanggal 4 Januari 2015 menjadi Liturgi terindah yang pernah saya tahu dan ikuti.


Saya memimpikan Tata Panembah di GKJ adalah Tata Panembah yang disusun dalam konteks budaya Jawa_dengan tidak mengurangi rasa hormat pada sumbangan budaya lain. Dengan begitu, jemaat akan semakin menghayati diri dan panggilannya dalam praktek hidup bergereja, bermasyarakat, dan berbangsa.


Dengan melimpahnya sumber daya berkualitas di GKJ, saya yakin, mimpi saya tersebut akan menjadi kenyataan. Nuwun


Salam sejuk dari Salatiga,
Juwanto
Warganing Pasamuan GKJ Tuntang Timur, Pengerja Sosial pada Parahita Semesta Foundation, Perum Tlogosari Blok B 2 Tuntang, Jawa Tengah – 50773; HP: +62 858 6675 6561

Catatan pendek:


Tulisan di atas diposting Pak Djoewanto di milis GKJnet 7 Januari 2015. Sebagaimana dijelaskan beliau, liturgi indah yang dimaksud adalah liturgi dengan ritus panca sembah (sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa dan sembah karsa) untuk Minggu Efifani 2015. Diterbitkan dalam bahan Masa Adven Natal oleh LPPS, Yogyakarta. Sejak kelahiran Tantra, maka saya lebih suka menyebut ritus tersebut sebagai ritus panca tantra acintyabhakti.


Saya yang menyusun liturgi tersebut akhirnya menyadari bahwa liturgi akan mewujudkan keindahannya ketika betul-betul dimengerti dan dihayati pelakunya. Tanpa pemahaman yang merasuk ke dalam panca indra, keindahan liturgi hanyalah impian di siang bolong. Hal ini semakin meneguhkan akan pentingnya edukasi liturgi melalui proses yang disebut katekese liturgi. Dan, bulan September bagi GKJ adalah bulan katekese liturgi. |seti


《Ilustrasi: http://kaulabali.blogspot.ae/2015/05/panca-sembah-kramaning-sembah.html?m=1》