label



Pagi tadi ada perbincangan hangat mengenai akreditasi di salah satu group WA. Cukup menarik. Akreditasi sama halnya pemberian label. “Oh, sekolah ini karena dalam pemeriksaan administrasi sangat baik, maka labelnya adalah akreditasi A.” Label itulah yang menentukan laris-tidaknya sebuah sekolah. Masyarakat tentu akan memilih produk yang berlabel bagus. Ketika menjumpai akreditasi sebuah sekolahan adalah C atau malah D, tentu saja ada keraguan bagi masyarakat untuk mempercayakan anaknya bersekolah di tempat itu.

Beberapa tahun yang lalu ada sebuah fatwa mengenai produsen makanan yang harus mendapatkan sertifikat halal bagi produk mereka. Ini menarik. Pelabelan itu ternyata bukan hanya dalam ranah kualitas, baik-tidaknya sebuah produk, tetapi sudah menjangkau ranah iman. Dosa apa tidak. Benar atau salah. Makanan yang berlabel halal tentu sudah dianggap benar untuk dikonsumsi. Ada jaminan bahwa makan produk ini tidak dosa. Tapi bagi yang belum berlabel, ya harus lebih hati-hati. Siapa tahu produk itu haram. Mengandung dosa.

Di dalam group WA yang sama, dulu juga pernah membahas menganai klasifikasi. Apa guna klasifikasi? Ternyata klasifikasi adalah alat untuk menunjukkan kuasa. Yang berhak melakukan klasifikasi adalah penguasa. Pun demikian dengan pelabelan. Siapa yang berhak membubuhkan label? Siapa yang berhak menentukan akreditasi? Siapa yang berhak menentukan halal-haram? Mereka yang berkuasa. Masalahnya, yang berkuasa ini pun sangat erat kaitannya dengan hal relasi. Meskipun saat ditinjau, ada sekolahan yang administrasinya amburadul, keuangannya morat-marit, tapi karena adanya relasi yang baik, maka akreditasinyapun bisa tinggi. Sebaliknya, meskipun segala sesuatu sudah memenuhi stadart, dan bahkan melebihi standart, tapi kalau relasi dengan yang “di atas” tidak terjalin dengan baik, bisa jadi label akreditasinya menjadi rendah. Relasi pun juga menentukan halal dan haram. Dosa dan tidak?!


Gereja pun tak bisa dipungkiri juga memiliki sistem kelembagaan yang didaulat sebagai penguasa. Nah, dari sinilah sering kali muncul pelabelan di dalam kehidupan gereja. Ada yang dilabeli “si taat”, “si dermawan”, “si omong doang”, “si pemalas”, “si penggosip”, “si bos besar”, “si dosa”, “si kikir”, dan masih banyak lagi label yang lain. Dan perlu dicatat juga, pelabelan itu sangat dipengaruhi oleh relasi! Nah lo... (dpp)