kramatan

Tempat ini adalah kramatan. Kesadaran demikian begitu kuat hidup di benak para warga masyarakat yang sudah berusia. Kalau memasuki area makam atau kramatan kasut atau alas kaki pun dilepas. Kearifan lokal yang sebelumnya tidak masuk dalam nalar beta.


Bagaimana tidak, bila saat memimpin upacara pemakaman memakai sepatu dan berkaos kaki layaknya pegawai zending Belanda. Setelah bertanya sana-sini, mengapa kalau di kramatan orang-orang melepas alas kaki, maka sejak saat itu beta pun melakukan hal yang sama. Ke makam tidak perlu bersepatu, cukup bersandal saja sehingga memudahkan melepaskannya, ketika hendak memasuki area kramatan.


Makam disebut orang lokal sebagai kramatan karena ada penghayatan bahwa tempat itu adalah suci, keramat dan perlu kita hormati. Di situlah para leluhur kita, orang-orang yang kita kasihi bersemayam. Ya, tempat itu menjadi khusus karena orang-orang yang sudah meninggal kembali kepada Tuhan, sangkan-paran hidup ini.
***


Kemarin, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, bersama warga blok V dan VI Mirisewu beserta para ahli waris makam Kyai Mas, beta kerja bhakti bersih makam menjelang acara ruwahan. "Ndhereki guyub rukun nggih Pak Pendhito", demikian ungkapan warga masyarakat ketika beta berjabat tangan.


Di tengah beta membersihkan makam alm. Pak Gangsar, dulu ketua majelis GKJ Ngentakrejo, ada yang tanya,"Penjenengan putrane Pak Gangsar, Mas?" Rupanya si penanya adalah orang jauh yang punya leluhur bersemayam di Kyai Mas. "Kula sedherekipun Pak..." Yang mengejutkan adalah kata-kata berikutnya,"Wah, prayogi menika Mas... berkahipun kathah."


Sembari mencabuti alang-alang berbekal kudhi pemberian bapak Wonogiri, beta pun merenungkan kata-kata tersebut. Membersihkan makam yang dikeramatkan adalah keutamaan bagi ahli waris. Ini pula rupanya yang menyuburkan pandangan mengapa orang berkeluarga perlu punya keturunan. Supaya makamnya kelak ada yang memelihara.


Ketika beta bergerak ke sekaran atau kijing yang banyak rumputnya, eksistensi ahli waris mendapat perhatian. "Lha si [A] ... ora menyang tho?" Rupanya yang sedang beta bersihkan itu adalah makam orang tua A. "Ayo ditandhangi... lha Pak Pendhito ki apane, ora ana sangkut paute, nggih Pak?" Selesai berkata begitu Pak Marzuki segera bergabung dengan beta diikuti yang lainnya. Maklum, rumputnya cukup banyak, lama tidak tersentuh arit dan cangkul.
***


Menurut cerita, mengapa makam tersebut diberi nama Kyai Mas karena beliau adalah cikal bakal. Identitas Kyai Mas sendiri tidak begitu jelas. Sedikit informasi saja, katanya pelarian dari Majapahit. Kisah ini mirip dengan banyak makam di daerah asal beta. Di Daerah Mojodipo, Randusari, Slogohimo, Wonogiri, ada makam Den Ayu Putri namanya. Ceritanya juga pelarian dari Majapahit.


Apakah benar seperti itu? Bahwa mereka benar-benar keturunan Raja Brawijaya? Pak Mahatmanto -sang dosen arsitektur Duta Wacana- di grup diskusi WA HANA punya pendapat menarik. "'pelarian' majapahit itu bukan berarti orang mojokerto/trowulan mlayu ke jawa tengah. itu hanya istilah bagi orang2 lokal yang tetep hindu dan tidak mau menganut islam."


Lebih jauh lagi, kata beliau, "kawasan 'pegunungan seribu' memang kawasan tempat mereka menyembunyikan diri. juga di antara merapi-merbabu. kelak rama koen menemukan naskah 'arjuna wiwaha' sebagai bahan disertasinya juga dari komunitas 'pelarian' majapahit di gunung merapi-merbabu itu." Keterangan yang segera memunculkan kata 'wow' dari bro Bow.


Masih menurut Pak Maha, "'pelarian' yang di gunung lawu malah mendirikan candhi cetha dan sukuh. keduanya dibangun oleh komunitas, bukan oleh kerajaan. dan keduanya dibangun di sebalik gunung bila dipandang dari arah trwoulan. memang agaknya [ini dugaan saya] itu untuk usaha menyelamatkan diri."


Ujaran dari Pak Mahatmanto yang lazim beta sapa dengan Sang Maha di atas sejatinya cukup membuka peluang penelitian sejarah makam-makam di Jogja dan Jawa Tengah. Terutama untuk menjelaskan siapa 'pelarian' Majapahit yang tersebar di mana-mana itu. Sebuah penelitian yang diharapkan meneguhkan makna kehadiran dan bukan malah membuangnya dengan dalih pemurnian agama.


Hal yang menarik juga, elemen dasar sekaran di hampir semua makam lazimnya berujung lancip. Ini mirip dengan candi Hindu. Rupanya candi sebagai tempat suci, tempat pemujaan dan doa, masih mewariskan auranya pada kramatan-kramatan zaman sekarang. Dari sinilah teologi tempat suci menemukan tempat terhormatnya lagi. Satu hal yang bagi kekristenan -protestan GKJ- kurang dipedulikan. Sayang sekali. |seti