koroway batu

Bila sempat mengetik frase "korowai batu" ke mesin pencari Google, umumnya langsung merujuk pada penjelasan "cannibal tribe in Papua". Koroway, suku kanibal pemakan daging manusia di pedalaman Papua. Ya, benar,... tetapi itu dulu.. Kini kanibalisme sudah terkikis. Tinggal cerita renyah sembari guyon.
Saya dan rombongan larut mendengarkan kisah Pak Yoab, sang kepala suku yang bercerita bagaimana dulu ia dan warganya begitu nikmat memakan daging manusia dari suku yang lain yang dikalahkan dalam peperangan.
“Wah... adik ini lengannya tebal, empuk sekali kalau dimakan,”
demikian gurauan Pak Yoab sambil memegang tangan salah satu kawan dalam rombongan saya yang terlihat pucat mendengarkan cerita itu.
Suku Koroway Batu merupakan subklan dari Suku Koroway. Mereka tinggal di pedalaman tenggara Papua. Tepatnya di wilayah hutan lebat di perbatasan Kabupaten Boven Digoel dengan Kabupaten Mappi, Kabupaten, Asmat, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Yahukimo.

Permukiman mereka awalnya berpindah-pindah, terletak sporadis dalam kawasan hutan yang masih terisolir. Hanya ketinting atau sampan kecil dengan motor tempel dan berjalan kaki menerabas hutan berpuluh kilo meter adalah sarana mereka untuk bepergian dan berhubungan dengan pihak luar. Sampan itu pun perlu didorong dengan tenaga manusia manakala air sungai surut saat musim kering. Permukiman terdekat adalah Kombay dan Yaniruma di sebelah selatan dengan jarak lurus sekira 60 km.
Kemudahan yang benar-benar menjadi berkah bagi warga Koroway Batu adalah saat datangnya pesawat udara amphibi C6 Porter Pilatus milik AMA, MAF atau Yajasi yang turun di perairan Sungai Deram Danauwage. Biasanya mereka mengirim BAMA (bahan makanan), obat-obatan, pertukaran guru dan misionaris yang berkarya di wilayah, atau untuk membawa warga sakit dari kampung itu ke rumah sakit di kota.
Ya, mereka para guru dan misionaris sukarela yang berkarya di kampung itu yang “membuka peradaban modern". Saya tidak berani mengatakan “membuka peradaban”, karena dalam bentuk apapun saudara-saudara di Koroway Batu ini sesungguhnya juga telah memiliki dan mengembangkan peradaban mereka sendiri. Lantas, mengapa saya menyebut mereka para misionaris itu "membuka peradaban modern"?

Jujur, ketika pihak pemerintah daerah atau pemerintah pusat republik ini atau Papua lainnya belum menjamah suku ini secara langsung, para misionaris itulah yang memperkenalkan "tatanan kehidupan manusia modern". Sejak sekitar tahun 2000-an telah ada para pemberani yang menjelajah dan memulai berkarya bagi kemajuan warga suku ini.

Karya para sukarelawan tersebut lebih intensif dilakukan sejak 2007/2008 lalu.
Mereka mengajarkan dan mencontohkan “hidup secara baru”. Berhenti berperang, berhenti memakan orang, turun dari rumah-rumah di atas pohon, mengenalkan hunian rumah panggung sederhana, belajar berkebun pisang atau ubi jalar, mengenalkan tradisi berbaju dari semula telanjang bulat atau berpakaian pelepah daun sekadar penutup aurat, mengajarkan relasi manusia dengan Sang Pencipta dalam tatanan keagamaan modern, belajar berbahasa Melayu (Indonesia) yang memang terbukti mampu menjadi lingua-franca di daratan kepulauan Nusantara ini.

Saat saya dan rombongan berkesempatan berkunjung pada akhir April 2016 lalu, manusia-manusia Koroway Batu ini nampaknya terus mengalami perubahan. Generasi tua terus bertransformasi dari pola kehidupan meramu (food gathering) apa yang bisa dimakan dari hutan yang berpindah-pindah hunian menjadi penghuni tetap suatu permukiman dan belajar menjadi pekebun dalam taraf dasar. Mereka mulai terbiasa menanam dan merawat pohon pisang dan ubi jalar di kebun.
Anak-anak mereka kini juga sudah mau bersekolah dengan model pembelajaran di kelas, meski belum sepenuhnya bisa berjalan setiap hari. Dua orang guru sukarelawan dari Kalimantan dan Nias diutus oleh sebuah yayasan pendidikan di Jayapura untuk membuka “dunia baru” bagi sekitar 30-an anak yang belajar di kelas I sampai kelas IV sekolah dasar.

Salah satu guru dan seorang tokoh masyarakat juga menceritakan sudah ada 7 anak yang akan diikutsertakan dalam Ujian Nasional SD tahun ini. Mereka akan dititipkan mengikuti Ujian Nasional di salah satu SD di Firiwage, sebuah pusat distrik (kecamatan) yang sudah lebih berkembang di bagian selatan wilayah ini.
amahan langsung dari pemerintah terhadap warga Koroway Batu memang baru terjadi pada 2012 lalu. Itu dengan kunjungan langsung UKP4B (Unit Kerja Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat) ke warga suku Koroway Batu. Kunjungan tersebut kemudian direspon dengan perbaikan dan pembangunan airstrip yang semula dibangun oleh masyarakat dan misionaris secara swadaya.

Transformasi airstrip menjadi bandar udara yang layak untuk penerbangan menjadi jalan pertama agar keterisolasian masyarakat dan wilayah ini teratasi. Rintisan program itu telah mulai dilakukan sejak 2013, dan kunjungan rombongan ini guna menyusun program lanjutan pengembangan bandar udara agar mampu menjadi prasarana yang memungkinkan pergerakan orang dan barang menjadi lebih mudah dilakukan dari dan ke wilayah ini.
Ya, membangunan bandar udara di kawasan terisolir bagaimanapun baru langkah kecil dari program besar pembangunan yang masih diperlukan di wilayah ini.

Masyarakat Koroway Batu yang semula terkesan angker dan menyeramkan kini tinggal cerita tutur para generasi tua. Itu yang setidaknya saya dan kawan-kawan serombongan dapatkan saat berkunjung. Tawa canda anak-anak muda Koroway Batu saat mereka bersama-sama bermain dan bercengkerama mengikuti rombongan berkeliling kampung masih terngiang-ngiang dalam ingatan, meski sudah sekian hari saya dan teman-teman meninggalkan permukiman di tengah hutan belantara itu. Semoga pembangunan yang dilakukan benar-benar mampu membangun manusia yang sesungguhnya.
---
joko yanuwidiasta