Kisah Perjalanan


Bisa menunggangi lagi "sang saka" -nama RXZku yang berwarna merah putih- menuju GKJ Mergangsan benar-benar membuat hati riang bukan kepalang. Bukannya ingin berakselerasi dengan kecepatan tinggi bagaikan anak panah asmara yang mengejar bayangan sang pujaan, namun untuk memberi peluang sang saka menunaikan amalan sholehnya di jalan raya. Mengharumkan nama bangsa dengan asap knalpot yang wangi di sepanjang jalan kenangan.


Rasa hati makin berbunga ketika tiba di pom bensin Jalan Paris, mbak penjaga pom berkata,"Ini RXZ ya Mas? Banyak yang nyari motor seperti ini..." Waow... sebagai pengendara siapa yang tak bangga. Seorang wanita saja hingga tahu persis eksistensi motor sport tua RXZ yang sekarang sedemikian terhormat.
***


Sesampai di GKJ Mergangsan, wajah intimidatif Bro Bow sudah menanti dengan kepulan asap tipis. Tak lama berselang armada roda empat berplat A pun segera berangkat. Suhu Potorono, Sang Maha Guru sudah menunggu, demikian pula Bro Dav di Ceper sudah tak sabar ingin segera bergabung menuju Purwodadi.


Perjalanan pun selalu disegarkan dengan berbagai macam genre cerita. Perspektif Sang Mahalah yang menjadi kuncinya. Diawali dengan keberadaan sungai-sungai di Jawa berikut tempat-tempat suci seperti bangunan candi pada era Hindu-Budha di Jawa. Andaikata itu dituturkan ulang, dengan sudut pandang kekinian, pasti menarik untuk didengarkan.


Betapa manusia sejak mulanya sangat tergantung dengan aliran air. Baik itu untuk sarana transportasi maupun untuk sumber kehidupan. Hujan yang mengiringi perjalanan sepanjang sore hingga malam itu seolah menegaskan eksistensi kekuasaan air.


Enam jam waktu tempuh perjalanan Yogyakarta-Purwodadi. Keberadaan beberapa titik kemacetan layak menjadi biang. Mengingat skill nyetir Bro Bow sejatinya sudah di atas kelas rata-rata. Kecepatan dan ketepatan dalam mengemudi tak bisa diragukan lagi. Namun mau bagaimana lagi, ketika harus mengantri di titik-titik kemacetan tanpa bisa memprediksi. Untung dalam situasi demikian Ki Atma terus memberitakan aktivitas yang terjadi di rumah Purwodadi.


Sampai di Pondok Mardika, Beth dan Argo sudah bersiap dengan senyum sumringahnya. Ada apa dengan mereka berdua, hanya sang maha yang mungkin tahu ceritanya. Selain, tentu saja Ki Atma. Maka jangan tanya kepada Pdt. Dyan Sunu dan Pdt. Wuri perihal "senyum sumringah" di atas.
Topik hangat saat menikmati kacang godhog adalah kabar YTP. Mungkinkah Jogja-Perdadi ditempuh dengan sang kuda besi Pulsar 200cc?


Satu pun tidak ada yang berani meragukan kapasitas mantan sekum Sinode GKJ ini untuk urusan touring bersama motor andalannya. Medan dan cuaca selalu bersahabat dengan pendeta Purwantoro ini berkat nyanyian dan siulan sepanjang perjalanan.


Apresiasi setinggi mungkin, akhirnya diberikan kepada Pak Yahya, sesaat sebelum acara slametan hana.web.id dimulai. Kisah perjalanan YTP tentu luar biasa... |seti