KIRI

 états généraux [gambar diambil dari bienvenueauxviiie.wordpress.com]

Aku seorang kidal. Sejak kecil, entah sudah berapa kali aku ditegur karena tangan kiriku terlalu nakal meraih makanan, minuman, dan mengerjakan hal-hal yang semestinya tidak pantas bagi tangan kasta paria ini. Tangan setan, kata mereka. Kiri = setan.
Aku tidak tahu apakah anggapan kuno ini ikut berperan dalam jatuhnya makna 'kiri' secara keseluruhan dalam alam pikiran orang-orang di negeri ini. Termasuk gerakan politik kiri, yang sebenarnya tidak memiliki hubungan yang jelas juga dengan tangan setan ini.

Terminologi 'kiri' dalam dunia politik modern lahir dari masa Revolusi Perancis di akhir Abad 18, ketika para pendukung republik yang didominasi rakyat biasa duduk di sisi kiri sidang majelis états généraux, berlawanan dengan para pendukung monarki di sisi kanan yang didominasi bangsawan dan biarawan Katolik.

Pada abad-abad berikutnya, baik 'kiri' maupun 'kanan' berkembang menjadi istilah gemuk yang mengakomodir banyak mazhab pemikiran. Ideologi kiri berputar pada isu kesetaraan sosial, yang kemudian ditafsirkan secara khas di setiap negara dan kawasan. Selama era Perang Dingin di Abad 20, gerakan kiri di blok Timur menjadi identik dengan ekonomi marxian dan negara komunis, sementara gerakan kiri di blok Barat menjadi identik dengan ekonomi keynesian dan negara kesejahteraan (welfare-state), serta isu-isu kesetaraan sosial lainnya seperti kesetaraan gender dan kesetaraan LGBT.
Di Indonesia sendiri, definisi kiri cenderung mengikuti blok Timur yang identik dengan komunisme, dan kemudian dipersempit lagi menjadi PKI. Kiri akhirnya dikubur bersama dengan diberantasnya PKI beberapa dekade lalu. Sisa-sisa anak cucu ideologisnya bergentayangan dalam pedih sampai sekarang. Celakanya, sejak kiri dikubur, politik Indonesia menjadi abu-abu (terima kasih Pak Harto). Semua seperti kabut asap, tidak jelas arah keberpihakannya. Bahkan setelah Orde Baru tumbang sekian tahun, reformasi masih gagal melahirkan kutub-kutub ideologi yang jelas dan mapan.
Katakan lah aku seorang sekular, feminis, pro-lingkungan. Partai mana yang harus kupilih? Tidak jelas. Rancu. Membingungkan. Tidak ada yang memiliki arah ideologi yang tegas, selain PKS yang masih setia pada wacana besar negara Islam super barokahnya. 

Sudah berapa tahun reformsi bergulir? Alih-alih membuka kembali pasar ideologi untuk bersaing secara sehat, masyarakat awam justru ditakut-takuti dengan "bahaya pemikiran komunis dan liberal". Tanpa pendidikan yang memadai pula tentang apa itu komunisme, apa itu liberalisme, serta isme isme lainnya. Politik Indonesia menjadi bland, tak berkutub. Ini bukan iklim politik yang sehat.
Kiri adalah arus gerakan yang gemuk dan kaya, tidak sesempit komunisme apalagi PKI. Jaminan kesehatan itu adalah produk ideologi kiri. Jaminan pendidikan itu adalah produk ideologi kiri. Upah minimum, jatah cuti, batas jam kerja, dan hak-hak karyawan lainnya itu semua adalah produk ideologi kiri. 

Aku percaya bahwa setiap ide, selama tidak menyeru kekerasan, berhak untuk diberi kebebasan. Kalau merasa terancam, balas lah dengan ide tandingan. Bukan melarang.
Dan oh, para perampas dan pembakar buku itu, hidup di Abad 15-kah mereka? Tak perlu dilarang pun, toko-toko buku kini bertumbangan. Di era ini, mayoritas anak muda tidak pergi ke perpustakaan lagi. Mereka pergi ke dunia maya. Ke lautan pengetahuan yang tak bisa dibendung lagi.

Yang masih bernafsu merampas buku hanya lah sisa-sisa generasi lapuk yang akan segera digilas zaman.

_Mita Handayani