kanca kenthel



Alangkah terkejutnya orang-orang asing pada waktu itu menjumpai para murid menyapa mereka dengan bahasa ibu mereka! 

Kehidupan para perantau di tanah seberang tentu saja tertekan dengan adanya budaya yang berbeda. Salah satu yang menjadi beban adalah masalah bahasa. Mereka kesulitan berkomunikasi dengan sesama karena kendala bahasa. Di tanah rantau, mereka sungguh kesepian. Mereka merindukan teman bercengkerama. Mereka merindukan suasana kampung halaman nan jauh di mato.

Hadirnya para murid yang menyapa mereka dengan bahasa ibu, membuat mereka haru. Mereka diingatkan akan kampung halaman. Mereka diingatkan akan keluarga. Mereka diingatkan akan kekasih yang sudah ditinggal lama (cie-cie, yang ldr...). Mereka terkenang akan sawah, ladang, sungai.... Saat para murid menyapa dengan bahasa ibu... orang-orang asing tersebut langsung memeluk mereka. Mendekap mereka dengan  lelehan air mata. Sungguh sangat intim.  Mereka menerima para murid selayaknya sahabat dari kampung. Merekapun lalu mengobrol dengan sukacita. Dan para murid pun mulai berkisah mengenai Tuhan sumber keselamatan.

Bahasa adalah senjata yang sangat ampuh, baik untuk menyatukan ataupun menghancurkan. Roh Kudus berkarya melalui bahasa ibu. Bahasa Roh adalah Bahasa Ibu! Bahasa yang penuh dengan kenangan. Percakapan dengan bahasa ibu menimbulkan keintiman. Kemerdekaan. Rasanya seperti ketemu kanca kenthel. Dengan penguasaan bahasa ibu masing-masing daerah, para murid mampu menyampaikan kabar suka cita.


Pentakosta mengingatkan bahwa Injil harus tumbuh dan berakar di tanah di mana umat tersebut bersekutu. Injil di Yunani akan berakar dan bertumbuh di dalam budaya Yunani. Injil di Arab, akan berakar dan bertumbuh di dalam budaya Arab. Injil harus ditumbuhkan dari bahasa ibu yang kemudian berkembang ke dalam kebudayaan lebih luas. Jadi jika kita menjumpai Injil berkembang di tanah Jawa, tetapi rasanya rasa Eropa.... nah, itulah yang namanya salah kedaden. Harusnya memang dikembalikan lagi kepada bahasa ibu, bahasa yang penuh kenangan dan keintiman. Sehingga Kristus yang hadir di tanah Jawa itu bukan lagi Kristus berambut pirang, berhidung mancung, berkulit terang, dan makannya roti. Melainkan Kristus berambut hitam, hidung nggak mancung-mancung amat, berkulit sawo matang, makanannya thiwul, dan sesekali nglinting ses klobot mbako dan cengkih. Yesus bukan menir Belanda yang berjarak dengan pribumi. Yesus bukan turis yang berbahasa layaknya makhluk planet. Tapi Yesus itu ya kanca kenthel yang menyapa kita dengan bahasa ibu yang kita miliki. Begitu dekat, intim, dan mesra. “Wis ra sah kakean dipikir... Ayo gek ndang wedangan wae. Udat-udut karo ngopi bareng. Tak bayari wis....” Demikianlah Yesus mengajak kita seperti layaknya kanca kenthel. Salam Pentakosta!! (dpp)

*) ilustrasi adalah kerajinan miniatur bambu, kaya Wiwik - Solo. foto diambil dari https://astrycraft.wordpress.com/