Kala Bendana


Gatotkaca itu anak dewi Arimbi. Ia mendapat warisan kerajaan Pringgadani dari kakeknya, prabu Arimba. Akan tetapi para paman nya, adik-adik dewi Arimbi, tidak rela kerajaan itu diwariskan ke Gatotkaca. Mereka melakukan pemberontakan, coup d'etat. Namun mereka semua tewas di tangan Gatotkaca. Hanya tinggal satu paman Gatotkaca yang masih hidup, yaitu Kala Bendana. Ia tidak ikut memberontak, sebab ia mencintai Gatotkaca. Sebaliknya Gatotkaca sangat saying kepada paman nya ini. Meskipun bentuk tubuhnya tidak menarik, pendek gemuk, dengan wajah raksasa, tetapi Gatotkaca dan Kala Benda itu saling menyayangi.  Mereka saling berbagi bahagia.

Nestapa Kala Bendana terjadi ketika dewi Siti Sundari mencari suaminya. Siti Sundari, putri prabu Kresna, raja Dwarawati itu adalah isteri Abimanyu, putra Arjuna. Abimanyu inilah yang akan menurunkan para raja. Akan tetapi, menurut keputusan dewa keturunan Abimanyu yang menjadi leluhur para raja itu bukan dari dewi Siti Sundari, melainkan dari dewi Utari, putri raja Wirata. Lagipula, Pandawa mempunyai kepentingan untuk memperat hubungan kerajaan Amarta dan Wirata. Maka Abimanyu dinikahkan dengan Utari. Padahal Abimanyu sudah mempunyai isteri yaitu Siti Sundari. Agar supaya rencana pernikahan itu terlaksana maka Abimanyu membohongi Siti Sundari kalau ia akan berkunjung ke Pringgadani, padahal yang senyatanya ia pergi ke Wirata untuk menikah dengan dewi Utari. Karena Abimanyu sudah pergi cukup lama belum juga kembali, Siti Sundari menyusulnya ke Pringgadani. Ia menemui kakaknya, yaitu Gatotkaca dan menanyakan keberadaan Abimanyu, suaminya. Gatotkaca berusaha untuk menutupi kebohongan yang dilakukan adiknya, si Abimanyu. Akan tetapi, Kala Bendana yang ikut menemui Siti Sundari menyela percakapan keduanya dengan mengatakan hal yang sebenarnya bahwa Abimanyu ke Wirata untuk menikah dengan dewi Utari. Mendengar penjelasan Kala Bendana itu, Siti Sundari menangis dan tetap sambil menangis ia lari pulang sendirian.

Gatotkaca marah kepada Kala Bendana sebab ia menyela percakapan dan membeberkan rahasia. Kala Bendana membela diri bahwa ia tidak bersalah sebab ia mengatakan hal yang sebenarnya. Ia seorang yang jujur, mengajari Gatotkaca untuk jujur, maka ia mengatakan hal yang sejujurnya. Terjadilah perdebatan antara paman dan kemenakan yang sebenarnya saling menyayangi itu. Karena dilanda kemarahan Gatotkaca menghajar pamannya itu. Tanpa disadarinya Gatotkaca menghajar terlalu keras sehingga akhirnya paman yang disayanginya itu mati. Sebelum meninggalkan dunia roh Kala Bendana berkata bahwa ia menunggu kemenakan yang disayanginya itu. ia hanya akan masuk ke swarga loka bersama dengan Gatotkaca. Di perang Barata yuda kelak Gatotkaca akan mati oleh senjata kunta wijayadanu, bukan karena kesaktian senjata itu, tetapi karena senjata itu ditolong oleh Kala Bendana sehingga bisa mengenai Gatotkaca dan Gatotkaca pun gugur di medan perang Kurusetra.

Dua orang yang mempunyai hubungan yang sangat erat, bahkan saling menyayangi, tetapi Kala Bendana mengalami nestapa karena terbunuh oleh Gatotkaca.


Di tengah jalan sepulang dari nonton pertunjukan wayang, Klinthing dan Klathah masih membicarakan nestapa Kala Bendana itu. Klinthing pun berujar "nestapa dosen yang dibunuh mahasiswa karena persoalan skripsi ya!"

Ki Atma