jungle child



papua ternyata asing bagi saya.
lebih khusus lagi, puak fayu, yang dilaporkan kejadiannya oleh penulis di sekitar tahun 80-an, seolah suatu bangsa yang jauh... yang tentu tidak kenal indonesia raya, ibu kita kartini atau jokowi..

buku terbitan 2006 ini membawa saya ke papua tahun 80-an. tahun-tahun ketika penulis hidup berada di tengah-tengah puak fayu berkaitan tugas ayahnya yang misionaris dan sekaligus linguist ini. tahun-tahun masa remaja saya juga. yang ia tulis adalah kenangannya, juga konflik-konflik dalam dirinya sepulang dari papua dan sekolah serta bekerja di swiss. kenangan personal yang kemudian ditulis dan diterbitkan ke dalam berbagai bahasa.

dibuka dengan kisah linglungnya dia di stasion kereta api jerman, negerinya sendiri. lalu kemudian bagaimana ia di kantornya menatap busur dan anak panah fayu... ingatannya lalu kembali ke masa kecilnya. dan seratusan halaman lebih digunakannya untuk bercerita tentang masa kecilnya di papua, di tengah-tengah puak yang katanya kejam gak kira-kira.

ia selain mengenalkan [lebih tepat menyanjung atau mengapresiasi] puak fayu, lewat bukunya ini ia juga mengungkapkan konflik batin yang ia alami karena perpindahan kultur yang ia alami di usaia dewasanya. ia seperti hidup di dua dunia yang tidak bisa terdamaikan. masa kecilnya "bebas" dan damai di hutan yang keras, tapi masa dewasanya terkungkung di dunia yang tertib serba memanjakan.
tulisan yang berupa ungkapan kenangan ini agaknya yang menyembuhkannya. yang membuat dua dunia itu terajut tanpa konflik lagi.

ia berkali-kali menuliskan pentingnya "berdamai". baik ketika melihat bahwa puak fayu yang terdiri dari 4 cabang ini selalu berantem satu sama lain, ia memberi perhatian pada tokoh TEAU yang mengaku bosan dengan pertempuran dan ingin hidup damai. juga, penulis memberi perhatian pada "lingkarang kematian" yang mengancam eksistensi puak itu bila tidak memutusnya dengan pengampunan dan perdamaian.
papanya ia tokohkan sebagai seorang pendamai, orang yang memelopori konsep baru itu ke tengah-tengah bangsa yang hidupnya memang selalu siaga antara survive atau mati. tema yang cocok buat dirinya sendiri yang merasa susah sekali mendamaikan diri dengan lingkungannya.

puak fayu digambarkan mengalami perubahan mendasar, dari puak yang gak kenal senyum, gak kenal konsep "bermain-main" -bahkan sejak kanak-kanak- menjadi puak yang mengenal kebaikan perdamaian.

saya kira, pesan ini yang membuat buku catatan personal ini jadi berharga untuk siapa saja di negeri yang sarat konflik seperti indonesia ini.

diterjemahkan dengan bagus sekali, seolah ditulis langsung dalam bahasa indonesia, kisah-kisah sabine yang berusaha mengelola konflik batinnya ini jadi terasa nikmat dibaca.

di bagian belakang, dilampirkan nama-nama yang terlibat dalam hidup penulis, juga beberapa istilah lokal, dan beberapa butir keistimewaan papua.

gombaaaal....
ternyata saya baru tahu keistimewaan papua justru dari buku ini!