juara tak harus mahal

Liga Inggris adalah liga yang paling laris di dunia sepak bola. Hak siar pertandingannya adalah yang paling mahal di antara liga-liga yang lain. Belum lagi penjualan jersey serta iklan yang bisa dikatakan mesin penghasil uang bagi masing-masing klub. Tak heran jika kemudian ada anggapan bahwa yang bermain di Liga Inggris itu bukan lagi manusia tetapi uang. Terlebih sejak munculnya  Abramovich yang membeli klub Chelsea dan Seikh Mansour yang membeli Manchester City, sangat kentara uang adalah pelaku utama di Liga Inggris. Pembelian pemain seolah-olah tanpa batasan anggaran. Asalkan pemain oke, klub oke, ya sudah... deal! Masalah harga itu masalah belakangan. Dampak lain dari permainan uang ini adalah pecat-memecat pelatih yang dianggap tidak berprestasi dan bertentangan dengan si bos besar. Kultur inilah yang membawa juara Liga Inggris bukan klub yang benar-benar berprestasi tetapi klub yang berani bayar mahal. Rentetan juara pun diwarnai klub-klub kaya raya berlimpah harta dengan anggaran tak terhingga.





Tahun ini adalah sebuah anomali bagi Liga Inggris. Adalah sebuah klub yang tahun kemarin tertatih berjuang lolos dari degradasi, tapi tahun ini benar-benar menunjukkan nyali sebagai juara. Klub ini jauh dari kata kaya. Anggaran belanjanya saja bisa dikatakan sangat minim. Tidak banyak yang mengenal klub ini, apalagi memavoritkannya menjadi juara. Klub ini sama sekali tidak memiliki bintang lapangan. Merekalah Leicester City. Tapi inilah sepakbola. Tidak ada yang tidak mungkin di dalam sepakbola. Tiba-tiba saja muncul nama yang sama sekali tak dinyana sebagai juara di penghujung musim. Hadirnya Leicester City sebagai juara sebenarnya adalah tamparan keras bagi Liga Inggris yang sedang dinina-bobokkan dengan gemerap uang. Bukan hanya klub, pemain, tetapi seluruh elemen Liga Inggris hendaknya “bertobat” ketika berkaca kepada Leicester City. Leicester City mengembalikan kembali citra sepakbola di tanah Inggris, bukan uang yang bermain  dan menentukan, tetapi strategi, semangat, dan kerjasama tim.

Juara itu tidak perlu mahal. Saya teringat film Laskar Pelangi. Kisah sebuah sekolahan di dekat pertambangan daerah Belitung yang hampir tutup. Tapi karena ada sembilan anak mendaftar, akhirnya sekolah itu dapat bertahan. Hebatnya, dengan penuh keterbatasan, sembilan anak tadi (yang kemudian menamakan diri Laskar Pelangi) mampu menunjukkan prestasi yang luar biasa. Saat pawai kemerdekaan, ada sekolah unggulan yang menampilkan drumband yang cukup hebat dengan seragam serta perlengkapan yang lengkap. Tapi ternyata anak-anak Laskar Pelangi mampu mencuri perhatian masyarakat dan juri cukup dengan daun-daunan yang mereka temukan di kebun. Daun-daunan itu mereka rangkai menjadi kostum, dan mereka pun menyajikan tarian rimba dengan kostum daun tersebut. Sangat murah, tetapi brilian! Banyak orang kemudian memuji kreatifitas mereka. Piala kemerdekaan pun akhirnya mereka raih, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.


Juara tak harus mahal. Juara itu masalah keyakinan dan kepercayaan. Keyakinan kepada kemampuan kita sendiri, serta kepercayaan kepada Tuhan Pencipta Semesta. (dpp)