Inilah Kisah Rangga

Wajah Ranga memang AADC banget. Adem (cool), Anteng (calm), Dani (sanskerta: bagus), dan Cakep. Namun jangan salah, ini bukan Rangga yang diperankan Nicolas Saputra dalam film AADC satu hingga AADC dua. Ini adalah kisah Rangga berdasarkan novel berjudul Nagasasra-Sabukinten. Nama lengkapnya Rangga Tohjaya, seorang senapati kerajaan Demak yang menyamar dengan nama tenar Mahesa Jenar.


Hilangnya dua pusaka kerajaan, Kyai Nagasasra dan Kyai Sabukinten menjadi biangnya. Dituduh mencuri keris pusaka tersebut membuatnya mengundurkan diri dari kalenggahan senapati. Tujuan penyamaran hanya satu, menemukan kembali Nagasasra-Sabukinten. Dengan begitu, kebenaran menempati tahtanya lagi dan fitnah keji pun menjadi tiada arti.


Hanya prajurit sejati yang berani menempuh risiko seperti itu. Tidak menyerah dari fitnah. Berjuang dengan cara elegan, tanda kematangan intelektual yang sungguh handal. Itulah Mahesa Jenar, yang tergambar sebagai sosok nan adem, anteng, dani dan cakep. AADC bangetlah, menurut sang penutur, Singgih Hadi Mintardja.


Bagaimana tidak adem dan anteng, mengingat ia terkesan kaku ketika berjumpa dengan perempuan. Dicandra sangat dani dan cakep, memang demikian keberadaannya.  Rela mengorbankan kepentingan pribadi adalah karakternya. Cermin sebuah ketulusan jiwa. Itulah mengapa gadis manis bernama Rara Wilis pun jatuh hati padanya. Sekalipun banyak respon canggung harus ditunjukkan Mahesa Jenar di hadapan sang pujaan. Kecanggungan yang sempat membuat galau pula dara jelita murid Ki Ageng Pandan Alas itu.


Demi sebuah tujuan mulia, Mahesa Jenar tidak pernah surut menghadapi cobaan dan berbagai tekanan. Kemantapan hati, penegasan panggilan jiwa adalah kuncinya. Sekalipun suatu ketika harus menghadapi keroyokan penjahat kelas kakap seperti Lowo Ijo murid Pasingsingan, Jaka Soka dari Nusakambangan, Sima Rodra dari Lodaya, yang didukung guru-gurunya. Musuh-musuh dengan nama besar itu tak membuat nyali murid Ki Ageng Pengging Sepuh ini ciut.


Sekalipun penguasaan Sasrabirawa belum sempurna, ilmu andalan itu tetap dipakai untuk menghadapi musuh tangguh tanpa banyak mengeluh. Itulah sosok Mahesa Jenar, ksatria yang menjalani hidup di jalan benar.


Ketika akhirnya dia terluka dan masuk jurang kesengsaraan, Mahesa Jenar tetap menunjukkan tekad tak mau menyerah pada keadaan. Ternyata, Tuhan berpihak kepada ksatria seperti ini. Manakala para musuhnya menganggap dia telah tiada, justru kecantikan dewi fortuna melindunginya. Kakak seperguruan yang telah menguasai aji sasrabhirawa dalam tataran halus menolong jiwanya.


Dalam kesunyian goa penempaan diri, Mahesa Jenar mendapatkan latihan rohani dari Kebo Kanigara. Berkat bimbingan ini, Mahesa Jenar pun dapat menguasai inti ajian sasrabhirawa. Ajian yang membuatnya menjadi pribadi yang mampu melewati batasan kemampuan ilmunya.


Itulah sekelumit kisah Rangga Tohjaya, yang berkat kecerdasannya mampu mengembalikan keris pusaka Nagasasra-Sabukinten. Dengan kisah ini, jelaslah sekarang bahwa Rangga tidak jahat. |seti