Indahnya Merayakan Perbedaan


Dapat merayakan perbedaan merupakan berkah yang indah. Itulah yang terjadi di tengah masyarakat Desa Ngentakrejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo. Tiap kali ada berita kematian, semua warga masyarakat datang melayat, apa pun agama dan kepercayaannya. Tak ada pembedaan kecuali satu hal. Bila warga non muslim yang meninggal, maka tidak disiarkan di Masjid. Itu saja.


Menariknya keputusan itu bukan berasal dari kearifan lokal tetapi lebih karena intervensi dari atasan. Seolah hendak menunjukkan bahwa level pendidikan yang tinggi tidak lantas membuat orang makin bijak. Terutama untuk pimpinan organisasi keagamaan tertentu, yang lebih mementingkan egoisme keagamaan ketimbang memayu endahing kebhinekaan.


Sekalipun demikian, berkat kearifan masyarakat setempat, dalam hal melayat, tetap tak ada pembedaan. Perbedaan justru dirayakan dalam kebersamaan memberi penghormatan bagi yang telah tiada. Seperti siang kemarin ketika Bp. Nangsi yang muslim -mertua Bp. Suryono majelis GKJ Ngentakrejo- berpulang.


Seperti biasa, tiap kali melayat warga non kristiani, beta memilih duduk lesehan bersama warga masyarakat lainnya. Beberapa kali diminta duduk di kursi, selalu saja beta tak sanggup memenuhinya. Tentu setelah nuwun sewu dan memilih menemani rombongan waktu berbondong berjabat tangan mengungkapkan bela sungkawa. Berbeda halnya bila yang meninggal adalah warga jemaat, tentu pilihan beta adalah tempat duduk yang strategis.


Di tengah asyiknya mendengarkan kisah banjir ikan di Kaliprogo tahun 1961, Pak Dasim -dukuh Pereng- menyampaikan sambutan dan secara khusus menyebut kehadiran Pak Pendhito GKJ Ngentakrejo. "...ingkang kawula urmati Pak Pendhito GKJ Ngentakrejo, Bapak Setiyadi..."


Wah?! Beta pun terkejut karena ini tidak biasanya. Sampai-sampai Pak Nasiran dan Pak Dikin secara bersamaan berujar,"Lha manggen teng ngriki kok nggih konangan nggih Pak Ndhito..." |seti