Indahnya Masa Putih Abu-abu



Entah kenapa masa ketika memakai seragam putih abu-abu adalah masa yang punya banyak sekali cerita. Dalam tiga tahun itu kita menemukan awal perjumpaan dengan kehidupan yang luas. Kita menemukan teman karib yang kata orang disebut sahabat. Kita menemukan rasanya jatuh cinta yang agak serius (yang dulu-dulu sih cuma main-main aja). Kita menemukan aliran musik yang pas di telinga kita. Kita menemukan klub sepak bola yang kita cintai sampai mati. Kita menemukan tantangan menjelajah semesta, naik gunung turun lembah, mencari Tuhan Allah. Dan masih banyak lagi cerita asyik saat kita berbalut seragam putih abu-abu. Bahkan saat memakai seragam putih abu-abu itulah, Rangga dan Cinta menemukan cinta (hedeh...).

Eh, lha katanya sekolah? Kok yang diceritakan hanya main-mainnya saja? Mana pelajarannya? Mana ilmunya? Di sinilah uniknya masa putih abu-abu. Pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru kita seakan berlalu begitu saja ketika kita meninggalkan bangku SMA. Seolah pelajaran itu tidak punya perekat yang lekat sehingga kurang dapat meresap dengan baik di pikiran kita. Melayang begitu saja entah kabur kemana. Memang sih, masih diingat dan terpakai beberapa... Tapi kalau dibandingkan dengan pengalaman main-main tadi, inilah yang justru melekat erat di dalam memori. Ilmu itu memang bukan hanya berasal dari pengajaran formal saja. Pelajaran formal adalah pemahaman kognitif manusia yang berupa hafalan, pemahaman, analisa, penerapan, dan penilaian. Jadi yang digunakan adalah otak kita untuk berpikir. Berbeda dengan pergaulan, persahabatan, pacaran, dimana sisi afektiflah yang bekerja. Perasaanlah yang berperan di sini. Sedangkan saat kita menemukan bakat, seperti basket, renang, melukis, menari, teater... di sinilah sisi psikomotorik kita berperan. Ini berkaitan dengan aktifitas fisik yang dimana kita nyaman untuk melakukannya. Jadi ada tiga hal yang menjadi unsur dasar pendidikan : kognitif (pikiran), afektif (perasaan), dan psikomotorik (keterampilan fisik)

Jadi kenapa saat SMA memori mengenai main-main itu lebih melekat erat jika dibandingkan dengan pelajaran dari guru? Karena di saat itulah kita membutuhkan pengembangan sisi afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif telah dijejalkan sejak SD (bahkan TK) ke dalam diri kita. Bukan berarti saat SMA sisi kognitif tidak penting lagi, tapi ada saatnya mengisi dan membentuk sisi-sisi yang lain. Saat SMA-lah mulai terbangun pemahaman yang lebih dalam mengenai hal rasa melalui pengalaman. Di sinilah sisi afektif berkembang. Saat SMA pula kita mulai menemukan bakat kita. Minat kita. Dunia kita. Di sinilah sisi psikomotorik berkembang.

Sayangnya perpisahan bukan lagi pilihan, tapi kemestian yang harus dijalani. Masa tiga tahun penuh kenangan pun harus berakhir dengan perpisahan. Tapi janganlah kecewa. Masa tiga tahun berbalut seragam putih abu-abu telah membawa kita menemukan dunia kita sendiri. Dan inilah landasan yang melambungkan kita hingga bisa terbang seperti saat ini. Selamat Hari Pendidikan Nasional (meskipun terlambat)!!

(dpp)  

*) foto adalah dokumen dari SMAN 4 Surakarta